<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Formasi FIB UI &#187; Ilmy</title>
	<atom:link href="http://formasi-fib-ui.org/blog/about/departemen/ilmy/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://formasi-fib-ui.org/blog</link>
	<description>Forum Amal dan Studi Islam FIB UI</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 Dec 2011 10:53:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Mencintai Ilmu Membangun Peradaban</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/ilmy/mencintai-ilmu-membangun-peradaban.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/ilmy/mencintai-ilmu-membangun-peradaban.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 08:28:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Titin Fatimah Program Studi Arab 2008 Dept. ‘Ilmy FORMASI FIB UI Saya sudah sering bertanya kepada ulama mengapa khotbahnya tidak pernah mendorong umat Muslim untuk menekuni sains dan teknologi—mengingat...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><a rel="attachment wp-att-512" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/ilmy/mencintai-ilmu-membangun-peradaban.html/attachment/esfahan_shah_sq"></a><a rel="attachment wp-att-512" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/ilmy/mencintai-ilmu-membangun-peradaban.html/attachment/esfahan_shah_sq"><img class="size-full wp-image-512 aligncenter" title="Esfahan_Shah_Sq" src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/05/Esfahan_Shah_Sq.jpg" alt="" width="461" height="113" /></a></strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh Titin Fatimah</p>
<p style="text-align: center;">Program Studi Arab 2008</p>
<p style="text-align: center;">Dept. ‘Ilmy FORMASI FIB UI</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Saya sudah sering bertanya kepada ulama mengapa khotbahnya tidak pernah mendorong umat Muslim untuk menekuni sains dan teknologi—mengingat seperdelapan dari kitab suci membicarakan sains dan teknologi. Kebanyakan menjawab bahwa mereka ingin mengkhotbahkan itu tetapi tidak tahu banyak mengenai sains modern. Mereka hanya mengetahui sains pada zaman Ibnu Sina.</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Muhammad Abdus Salam, penerima Nobel Fisika, 1979</em></strong></p>
<p>Cinta terhadap Ilmu akan membawa kita—umat islam&#8211; pada satu proses pendewasaan dalam berpikir dan bertindak. Cara berpikir tersebut akan membuat kita sedikit demi sedikit mengasah dan memperuncing <em>curiosity</em> atau rasa keingintahuan kita terhadap apapun. Rasa ingin tahu itu kemudian menjadikan kita bersikap kritis dan menjadi sosok yang selalu curiga akan kebenaran yang tentu saja untuk mencari kebenaran yang sebenarnya. Selain itu pula akan mendorong kita untuk terus belajar demi menemukan kebenaran itu.</p>
<p>Bukti cinta terhadap ilmu tersebut bisa kita temui pada ilmuwan-ilmuwan muslim yang menjadi pemikir dan pelopor hebat di bidang sains modern dan disiplin ilmu lainnya yang penemuan dan teorinya masih digunakan hingga saat ini. Para ilmuwan tersebut—dengan kecerdasan luar biasa yang dikaruniakan Allah—telah membawa mereka pada satu fase dimana mereka harus menjadi manusia yang tinggi derajatnya dengan ilmu pengetahuan. Kemudian lahirlah para pemikir dan pelopor yang sholeh lagi cerdas yang banyak mempelopori penemuan dalam berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan. Para pemikir dan pelopor tersebut yaitu Al-Razi yang merupakan ilmuwan pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan <em>measles</em>. Dia juga ilmuwan pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Ibnu Sina yang dikenal di Eropa dengan nama Avicenna, ilmuwan berbahasa Parsi dari Abad 10 memiliki kontribusi terhadap penelitian alam dan filsafat agama. Dia seorang filosof yang berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Buku yang terkenal dari ilmuwan ini yaitu <em>Qanun fi al-Thibb</em> atau The <em>Canon of Medicine</em> (undang-undang kedokteran) diajarkan kepada calon dokter di berbagai universitas di Perancis dan Italia dari abad ke-12 sampai ke-16. Undang-undang kedokteran tersebut juga merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Ilmuwan dalam bidang optik yaitu Abu Ali al-Hasan Ibn. al-Haythami, yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen, dia terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya yaitu benda-lah yang mengirim cahaya ke mata. Dalam bidang astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe<a href="#_ftn1">[1]</a>. Selain itu adalah al-Fargani, yaitu pakar astronomi yang karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis dan namanya diganti menjadi al-Faragnus. Dalam bidang kimia, terkenal nama Jabir ibn Hayyan yang menemukan bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Dalam bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi yang juga mahir dalam bidang astronomi. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. Kata “aljabar” berasal dari judul bukunya, <em>al-Jabr wa al-Muqoobalah</em>. Dalam bidang sejarah Islam terkenal nama at-Tabari, al-Biruni, dan al-Mas’udi. Al-Mas’udi juga dikenal sebagai ahli dalam ilmu geografi. Diantara karyanya adalah <em>Muruj al-Zabab wa Ma’adin al-Jawahir</em>. Dan masih banyak lagi ilmuwan-ilmuwan muslim dan karyanya yang ikut berkontribusi banyak dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada zamannya yang tidak dapat disebutkan semuanya.</p>
<p>Tentunya ada latar belakang dan motivator yang mendasari ilmuwan-ilmuwan di atas dalam menemukan penemuan-penemuan hebat tersebut. Motivasi besar mereka berawal dari ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dalam dua panduan umat Islam tersebut, yakni Al-Qur’an dan Hadits telah mendorong umat Islam untuk menjunjung ilmu pengetahuan setinggi-tingginya dan menghargai para ‘ulama atau ilmuwan. Motivasi tersebut telah membawa para ilmuwan untuk menguasai ilmu pengetahuan melalui penjelajahan-penjelajahan intelektual ilmiah sehingga memberikan kontribusi untuk peradaban Islam berupa penemuan-penemuan hebat dalam berbagai bidang. Penemuan-penemuan tersebut tidak muncul begitu saja, namun melalui berbagai perjalanan ilmiah berupa penerjemahan buku-buku warisan Yunani misalnya, penelaahan terhadap karya yang sudah terlebih dahulu ada seperti karya-karya dari ilmuwan Yunani, pengujian-pengujian terhadap teori yang ada, pengamatan, dan sebagainya.</p>
<p>Satu bukti kejayaan peradaban Islam yang paling hebat adalah adanya pusat studi Islam dan pembelajaran multidisiplin Ilmu di Baghdad pada kekuasaan Dinasti Abbasiyah  (217H/832M), yaitu <em>Bayt al-Hikmah</em>. <em>Bayt-al-Hikmah </em>awalanya merupakan perpustakaan pribadi Khalifah Harun Al-Rasyid (786-808M), kemudian pada pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun (813-833M) dijadikan <em>center of learning</em> atau pusat pembelajaran. Pembelajaran tersebut berupa penerjemahan karya-karya peninggalan peradaban besar Yunani, Romawi, Mesir dan Persia. Seperti contoh pada zaman khalifah al-Ma’mun, karya-karya Aristoteles diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, sehingga orang-orang Eropa kemudian pada suatu saat tinggal menerjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Proses penerjemahan inilah yang menjadi awal mula munculnya ilmu pengetahuan baru di Arab yang kemudian menyebar hingga ke Barat. Jika saja pada masa kepemimpinan Khalifah al-Ma’mun tidak ada proses penerjemahan karya-karya klasik peradaban sebelumnya, maka sebuah ketidakniscayaan bahwa ilmu pengetahuan tersebut akan sampai ke Barat karena warisan ilmu dari peradaban besar (Yunani, Romawi, Mesir, dan Persia) ketika hancur sama sekali tidak tersentuh oleh pikiran bangsa manapun, kecuali orang-orang Arab dibawah kepemimpinan khalifah yang mencintai dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.</p>
<p>Betapa hebatnya para ilmuwan yang merupakan <em>jebolan</em> Akademi Ilmiah terbaik Bayt al-Hikmah pada masa itu. Mereka berperan dalam membangun peradaban Islam. Mereka—demikian karena amat besar kecintaan mereka terhadap ilmu pengetahuan, terlebih lagi khalifah pada masa itu yang juga memberikan perhatian lebih terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Untuk itu, kita seharusnya semakin menyadari bahwa ilmu pengetahuan merupakan batu loncatan awal kebangkitan peradaban. Kemudian muncul sebuah perasaan sedih ketika masih ditemukan seorang pemimpin yang lebih mementingkan sektor ekonomi ketimbang sektor keilmuwan (pendidikan) yang sudah pasti akan menciptakan manusia-manusia cerdas yang siap membangun peradaban bangsa. Perlu diketahui bahwa peradaban berkolerasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Untuk itu diperlukan sebuah keinginan kuat yang berlandaskan keilmuwan (Qur’an dan Hadits) untuk membangun dan membangkitkan peradaban yang gemilang. <em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p>Referensi :</p>
<p>Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam “Islamia” Vol. V no. 1</p>
<p>Masood, Ehsan. 2009. <em>Ilmuwan-ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern</em>. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Alat/pengukur letak planet/bintang-bintang. (Al Barry, M.Dahlan. 1994. <em>Kamus Ilmiah Populer</em>. Surabaya : Penerbit Arkola)</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=510&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/ilmy/mencintai-ilmu-membangun-peradaban.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RA Kartini dan Pengaruh Pemikiran Yahudi, Theosofi dan Pluralisme</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/ilmy/ra-kartini-dan-pengaruh-pemikiran-yahudi-theosofi-dan-pluralisme.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/ilmy/ra-kartini-dan-pengaruh-pemikiran-yahudi-theosofi-dan-pluralisme.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 07:22:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmy]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Pengaruh Pemikiran Yahudi]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[Kebanyakan orang yang menjadikan Kartini sebagai ikon perjuangan perempuan Indonesia, tak melihat sisi lain dari pemikirannya yang sangat berbau Theosofi dan kebatinan. Padahal, banyak tokoh wanita lain yang hidup semasa...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kebanyakan orang yang menjadikan Kartini sebagai ikon perjuangan perempuan Indonesia, tak melihat sisi lain dari pemikirannya yang sangat berbau Theosofi dan kebatinan. Padahal, banyak tokoh wanita lain yang hidup semasa dengannya, yang berjuang secara nyata dalam dunia pendidikan, bukan dalam wacana surat menyurat seperti yang dilakukan Kartini. </em></p>
<p><strong>TANGGAL </strong>21 April dikenal sebagai Hari Kartini. Hampir semua perempuan di Indonesia, termasuk kaum muslimah, yang ikut-ikutan memperingati hari tersebut tanpa mengetahui latar belakang sejarahnya yang jelas. Siapa sesungguhnya Kartini? Siapa orang-orang yang mempengaruhinya? Bagaimana corak pemikirannya?</p>
<p>Peringatan Hari Kartini sering diikuti beragam acara yang mengedepankan emansipasi perempuan, kesetaraan gender, perjuangan feminisme, dan lain-lain. Kartini, dianggap sebagai ikon bagi perjuangan perempuan dalam persoalan tersebut. Kartini sering disebut sebagai ikon pendobrak bagi kemajuan perempuan Indonesia dan diakui secara resmi oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 108 tahun 1964.</p>
<p>Kartini lahir di desa Mayong, sebelah barat Kota Kudus, Kabupaten Jepara. Sebagai anak seorang bupati, Kartini hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Saat kecil, Kartini dimasukkan ke sekolah elit orang-orang Eropa, Europese Lagere School (ELS) dari tahun 1885-1892. Di sekolah ini, Kartini banyak bergaul dengan anak-anak Eropa.</p>
<p>Sebagai keluarga priyayi Jawa, kultur mistis dan kebatinan begitu melekat di lingkungan tempat tinggalnya. Namun bagi Kartini, ikatan adat istiadat yang telah berurat akar dalam itu, dianggap mengekangnya sebagai perempuan. Setelah tamat dari sekolah ELS Kartini memasuki masa pingitan. Sementara itu, Kartini merasakan betul betapa haknya mendapatkan pendidikan secara utuh dibatasi. Di luar, ia melihat pendidikan Barat-Eropa begitu maju.</p>
<p>Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi, seperti J. H Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri, seorang humanis yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini. Ny Abendanon Mandri adalah seorang wanita kelahiran Puerto Rico dan berdarah Yahudi.</p>
<blockquote><p>…Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini…</p></blockquote>
<p>Tokoh lain yang berhubungan dengan Kartini adalah, H. H Van Kol (Orang yang berwenang dalam urusan jajahan untuk Partai Sosial Demokrat di Belanda), Conrad Theodore van Daventer (Anggota Partai Radikal Demokrat Belanda), K. F Holle (Seorang Humanis), dan Christian Snouck Hurgronye (Orientalis yang juga menjabat sebagai Penasihat Pemerintahan Hindia Belanda), dan Estella H Zeehandelar, perempuan yang sering dipanggil Kartini dalam suratnya dengan nama Stella. Stella adalah wanita Yahudi pejuang feminisme radikal yang bermukim di Amsterdam. Selain sebagai pejuang feminisme, Estella juga aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP).</p>
<p>Kartini berkorespondensi dengan Stella sejak 25 Mei 1899. Dengan perantara iklan yang di tempatkan dalam sebuah majalah di Belanda, Kartini berkenalan dengan Stella. Kemudian melalui surat menyurat, Stella memperkenalkan Kartini dengan berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme.</p>
<p>Dalam sebuah suratnya kepada Ny Nellie Van Koll pada 28 Juni 1902, Stella mengakui sebagai seorang Yahudi dan mengatakan antara dirinya dan Kartini mempunyai kesamaan pemikiran tentang Tuhan. Stella mengatakan,”Kartini dilahirkan sebagai seorang Muslim, dan saya dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Meskipun demikian, kami mempunyai pikiran yang sama tentang Tuhan. ”</p>
<p>Dr Th Sumarna dalam bukunya ”Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini” menyatakan ada surat-surat Kartini yang tak diterbitkan oleh Ny. Abendanon Mandri, terutama surat-surat yang berkaitan dengan pengalaman batin Kartini dalam dunia okultisme (kebatinan dan mistis). Entah dengan alasan apa, surat-surat tersebut tak diterbitkan. Ny Abendanon hanya menerbitkan kumpulan surat Kartini yang diberi judul <em>”Door Duisternis tot Licht&#8221;</em> (Habis Gelap Terbitlah Terang). Keterangan mengenai kepercayaan Kartini terhadap okultisme hanya didapat dari surat-suratnya yang ditujukan kepada Stella dan keluarga Van Kol. Seperti diketahui, okultisme banyak diajarkan oleh jaringan Freemasonry dan Theosofi, sebagai bagian dari ritual perkumpulan mereka.</p>
<p>Nama-nama lain yang menjadi teman berkorespondensi Kartini adalah Tuan H. H Van Kol, Ny Nellie Van Kol, Ny M. C. E Ovink Soer, E. C Abendanon (anak J. H Abendanon), dan Dr N Adriani (orang Jerman yang diduga kuat sebagai evangelis di Sulawesi Utara). Kepada Kartini, Ny Van Kol banyak mengajarkan tentang Bibel, sedangkan kepada Dr N Adriani, Kartini banyak mengeritik soal zending Kristen, meskipun dalam pandangan Kartini semua agama sama saja.</p>
<p>Apakah korespondensi Kartini dengan para keturunan Yahudi penganut humanisme, yang juga diduga kuat sebagai aktivis jaringan Theosofi-Freemasonry, berperang penting dalam memengaruhi pemikiran Kartini? Ridwan Saidi dalam buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia menyebutkan, sebagai orang yang berasal dari keturunan priayi atau elit Jawa dan mempunyai bakat yang besar dalam pendidikan, maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu.</p>
<blockquote><p>…maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu&#8230;</p></blockquote>
<p>Dalam catatan Ridwan Saidi, orang-orang Belanda gagal mengajak Kartini berangkat studi ke negeri Belanda. Karena gagal, maka mereka menyusupkan ke dalam kehidupan Kartini seorang gadis kader Zionis bernama Josephine Hartseen. Hartseen, menurut Ridwan adalah nama keluarga Yahudi.</p>
<p>Siapa yang berperan penting merekatkan hubungan Kartini dengan para elit Belanda? Adalah Christian Snouck Hurgronje orang yang mendorong J.H Abendanon agar memberikan perhatian lebih kepada Kartini bersaudara. Hurgronje adalah sahabat Abendanon yang dianggap oleh Kartini mengerti soal-soal hukum agama Islam. Atas saran Hurgronje agar Abendanon memperhatikan Kartini bersaudara, sampailah pertemuan antara Abendanon dan Kartini di Jepara.</p>
<p>Sebagai seorang orientalis, aktivis Gerakan Politik Etis, dan penasihat pemerintah Hindia Belanda, Snouck Hurgronje juga menaruh perhatian kepada kepada anak-anak dari keluarga priyayi Jawa lainnya. Hurgronje berperan mencari anak-anak dari keluarga terkemuka untuk mengikuti sistem pendidikan Eropa agar proses asimilasi berjalan lancar.</p>
<p>Langkah ini persis seperti yang dilakukan sebelumnya oleh gerakan Freemasonry lewat lembaga ”Dienaren van Indie” (Abdi Hindia) di Batavia yang menjaring anak-anak muda yang mempunyai bakat dan minat untuk memperoleh beasiswa. Kader-kader dari ”Dienaren van Indie” kemudian banyak yang menjadi anggota Theosofi dan Freemasonry.</p>
<p><strong>Pengaruh Theosofi dalam Pemikiran Kartini</strong></p>
<p>Surat-surat Kartini kepada Ny. Abendanon, orang yang dianggap satu-satunya sosok yang boleh tahu soal kehidupan batinnya, dan surat-surat Kartini lain<a rel="attachment wp-att-506" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/ilmy/ra-kartini-dan-pengaruh-pemikiran-yahudi-theosofi-dan-pluralisme.html/attachment/letters-from-kartini"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-506" title="letters-from-kartini" src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/05/letters-from-kartini-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>ya para humanis <img src="http://www.voa-islam.com/photos/mumtaz/kartini-letter.jpg" alt="" width="206" height="266" />Eropa keturunan Yahudi di era 1900-an sangat kental nuansa Theosofinya. Seperti ditulis dalam surat-suratnya, Kartini mengakui ada orang yang mengatakan bahwa dirinya tanpa sadar sudah masuk kedalam alam pemikiran Theosofi.</p>
<p>Bahkan, Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi. Selain itu, semangat pemikiran dan perjuangan Kartini juga sama sebangun dengan apa yang menjadi pemikiran kelompok Theosofi. Inilah yang kemudian, banyak para humanis yang menjadi sahabat karib Kartini begitu tertarik kepada sosok perempuan ini.</p>
<blockquote><p>…Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi…</p></blockquote>
<p>Kartini juga kerap mendapat kiriman buku-buku dari Ny Abendanon, yang di antaranya buku tentang humanisme, paham yang juga lekat dengan Theosofi dan Freemasonry. Diantara buku-buku yang dibaca Kartini adalah, Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier, Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens.</p>
<p>Berikut surat-surat Kartini yang sangat kental dengan doktrin-doktrin Theosofi:<br />
”Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni. ” (Surat kepada Ny Abendanon, 14 Desember 1902).</p>
<p><em>”Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna&#8230;&#8221;</em> (Surat Kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).</p>
<p><em>”Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain”</em> (Surat 31 Januari 1903).</p>
<p><em>”Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain.” </em>(Surat kepada E. C Abendanon, 31 Januari 1903).</p>
<p><em>”Ia tidak seagama dengan kita, tetapi tidak mengapa, Tuhannya, Tuhan kita. Tuhan kita semua.” </em>(Surat Kepada H. H Van Kol 10 Agustus 1902).</p>
<p><em>”Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda, tetapi kesemuanya menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita juga mengabdi kepada Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan, dan kami sendiri menyebutnya Allah.” </em>(Surat kepada Dr N Adriani, 24 September 1902).</p>
<blockquote><p>…Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan pluralisme…</p></blockquote>
<p>Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan pluralisme.</p>
<p>Mengenai keterkaitan dan hubungannya dengan Theosofi, Kartini mengatakan:</p>
<p><em>”Orang yang tidak kami kenal secara pribadi hendak membuat kami mutlak penganut Theosofi, dia bersedia untuk memberi kami keterangan mengenai segala macam kegelapan di dalam pengetahuan itu. Orang lain yang juga tidak kami kenal menyatakan bahwa tanpa kami sadari sendiri, kami adalah penganut Theosofi.&#8221;</em> (Surat Kepada Ny Abendanon, 24 Agustus 1902).</p>
<p><em>Hari berikutnya kami berbicara dengan Presiden Perkumpulan Theosofi, yang bersedia memberi penerangan kepada kami, lagi-lagi kami mendengar banyak yang membuat kami berpikir.”</em> (Surat Kepada Nyonya Abendanon, 15 September 1902).</p>
<p>Sebagai orang Jawa yang hidup di dalam lingkungan kebatinan, gambaran Kartini tentang hubungan manusia dengan Tuhan juga sama: manunggaling kawula gusti. Karena itu, dalam surat-suratnya, Kartini menulis Tuhan dengan sebutan ”Bapak”. Selain itu, Kartini juga menyebut Tuhan dengan istilah ”Kebenaran”, ”Kebaikan”, ”Hati Nurani”, dan ”Cahaya”, seperti tercermin dalam surat-suratnya berikut ini:</p>
<p><em>”Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia.”</em> (Surat kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).</p>
<p>”Kebaikan dan Tuhan adalah satu.” (Surat kepada Ny Nellie Van Kol, 20 Agustus 1902).</p>
<blockquote><p>…Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat…</p></blockquote>
<p>Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat. Inilah yang oleh kelompok Theosofi disebut sebagai upaya menyatukan antara ”Timur dan Barat”. Sebuah upaya yang banyak memikat para elit Jawa, terutama mereka yang sudah terbaratkan secara pemikiran.</p>
<p>Siti Soemandari, penulis biografi Kartini mengatakan, dalam beragama, Kartini kembali kepada akar-akar kejawennya atau apa yang disebut dengan ngelmu kejawen. Soemandari mempertegas, kepercayaan Kartini adalah gabungan antara iman Islam dan Kejawen. Atau dalam bahasa lain, keyakinan agama atau kepercayaan Kartini adalah sinkretisme yang berlandaskan pada pluralisme agama.</p>
<blockquote><p>…Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung…</p></blockquote>
<p>Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung oleh seorang Teosof bernama R. Musa dan kemudian menyebar di berabagai daerah di Jawa. Tercatat ada beberapa daerah yang berdiri Sekolah Kartini, yaitu Jatinegara (Jakarta), Semarang, Bogor, Madiun (1914), Cirebon, Malang (1916), dan Indramayu (1918).</p>
<p>Sebagai sekolah yang dikelola oleh para Teosof, ajaran tentang kebatinan, sinkretisme&#8211;atau sekarang lebih populer dengan istilah pluralisme&#8211; juga tentang pembentukan watak dan kepribadian, lebih menonjol dalam pelajaran di sekolah-sekolah tersebut. Sekolah lain yang didirikan di berbagai daerah oleh kelompok Theosofi adalah Arjuna School, dengan muatan nilai-nilai pendidikan yang sama dengan Kartini School.</p>
<p><strong>Tepatkah jika Kartini, berpikiran Barat dan berpaham Theosofi, dijadikan ikon bagi perjuangan kaum wanita pribumi?</strong></p>
<p>Sejarah mencatat, ada banyak perempuan yang hidup sezaman dengan Kartini yang namanya begitu saja dilupakan dalam perannya memajukan pendidikan kaum hawa di negeri ini. Di antara nama itu adalah Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung yang juga berkiprah memajukan pendidikan kaum perempuan. Dewi Sartika tak hanya berwacana, tapi juga mendirikan lembaga pendidikan yang belakangan bernama Sakolah Kautamaan Istri (1910). Selain Dewi Sartika, ada Rohana Kudus, kakak perempuan Sutan Sjahrir, di Padang, Sumatera Barat, yang berhasil mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916).</p>
<p>Kartini, seperti yang tersirat dalam tulisan Prof Harsja W Bachtiar, adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia. Atau setidaknya, bahwa proses asimiliasi yang dilakukan kelompok humanis Belanda yang mengusung Gerakan Politik Etis pada masa kolonial, telah sukses melahirkan sosok yang Kartini yang ”tercerahkan” dengan pemikiran Barat</p>
<blockquote><p>…Kartini adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia</p></blockquote>
<p>Karena itu, Harsja menilai, sejarah harus jujur dan secara terbuka melihat jika memang ada orang-orang yang juga mempunyai peran penting seperti Kartini, maka orang-orang tersebut juga layak mendapat penghargaan serupa, tanpa menihilkan peran yang dilakukan oleh Kartini.</p>
<p>Soal sosok Kartini yang diduga menjadi ”mitos dan rekayasa” yang diciptakan oleh kolonialis juga menjadi perhatian sejarawan senior Taufik Abdullah. Ia menulis:</p>
<p><em>”Tak banyak memang ”pahlawan” kita resmi atau tidak resmi yang dapat menggugah keluarnya sejarah dari selimut mitos yang mengitari dirinya. Sebagian besar dibiarkan aman tenteram berdiam di alam mitos—mereka adalah ”pahlawan” dan selesai masalahnya. R. A Kartini adalah pahlawan tanpa henti membiarkan dirinya menjadi medan laga antara mitos dan sejarah. Pertanyaan selalu dilontarkan kepada selimut makna yang menutupinya. Siapakah ia sesungguhnya? Apakah ia hanya sekadar hasil rekayasa politik etis pemerintah kolonial yang ingin menjalankan politik asosiasi?”</em></p>
<p>Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional. Ny Eleanor Roosevelt, istri Presiden AS Franklin D Roosevelt memberikan pernyataan tentang perjuangan Kartini:</p>
<p><em>”Saya senang sekali memperoleh pandangan-pandangan yang tajam yang diberikan oleh surat-surat ini. Satu catatan kecil dalam surat itu, menurut saya merupakan sesuatu yang patut kita semua ingat. Kartini katakan: Kami merasa bahwa inti dari semua agama sama adalah hidup yang benar, dan bahwa semua agama itu baik dan indah. Akan tetapi, wahai umat manusia, apa yang kalian perbuat dengan dia? Daripada mempersatukan kita, agama seringkali memaksa kita terpisah, dan sedangkan gadis yang muda ini, menyadari bahwa ia harus menjadi kekuatan pemersatu”. </em></p>
<blockquote><p>…Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional…</p></blockquote>
<p>Siapa Ny. Eleanor Roosevelt? Dalam buku Decoding the Lost Symbol, Simon Cox menyebut Eleanor Roosevelt adalah aktivis organisasi the Star of East, sebuah organisasi yang berada di bawah kendali Freemasonry, yang menerima perempuan sebagai anggotanya. Di Batavia, organisasi the Star of East (Bintang Timur), pada masa lalu sangat mengakar dengan berdirinya loge Freemasonry, De Ster in het Oosten (Bintang Timur) di kawasan Weltevreden, yang sekarang berada di jalan Boedi Oetomo.</p>
<p>Jadi, masih mengidolakan Kartini? [Artawijaya/voa-islam.com]</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=472&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/ilmy/ra-kartini-dan-pengaruh-pemikiran-yahudi-theosofi-dan-pluralisme.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Motivasi Menulis</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/ilmy/mitivasi-menulis.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/ilmy/mitivasi-menulis.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 12:36:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmy]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan/mitivasi-menulis.html</guid>
		<description><![CDATA[Menulis merupakan nikmat Allah yang besar. Karena dengan menulis manusia dapat menyampaikan kebaikan kepada manusia lainnya. Ada beberapa motivasi kenapa manusia mau menulis. Tapi, jika anda memang ingin jadi penulis,...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis merupakan nikmat Allah yang besar. Karena dengan menulis manusia dapat menyampaikan kebaikan kepada manusia lainnya. Ada beberapa motivasi kenapa manusia mau menulis. Tapi, jika anda memang ingin jadi penulis, maka jadilah penulis Muslim. Bagi penulis muslim, menulis merupakan rangkaian amal ibadah.<br />
Perhatikanlah nasihat berikut ini baik &#8211; baik:<br />
<em>Aku akan mati, sedangkan segala yang aku torehkan dengan penaku akan tetap hidup. Alangkah bahagianya, jika semua orang yang membaca tulisanku berdoa. Semoga Allah melimpahkan kelembutan-Nya kepadaku serta mengasihani kelemahanku dan jeleknya tindakanku.</em> (Manshur Abdul Aziz bin Al ‘Ajyan)<br />
Maka anda?</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=29&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/ilmy/mitivasi-menulis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

