Mencintai Ilmu Membangun Peradaban

Oleh Titin Fatimah

Program Studi Arab 2008

Dept. ‘Ilmy FORMASI FIB UI

Saya sudah sering bertanya kepada ulama mengapa khotbahnya tidak pernah mendorong umat Muslim untuk menekuni sains dan teknologi—mengingat seperdelapan dari kitab suci membicarakan sains dan teknologi. Kebanyakan menjawab bahwa mereka ingin mengkhotbahkan itu tetapi tidak tahu banyak mengenai sains modern. Mereka hanya mengetahui sains pada zaman Ibnu Sina.

Muhammad Abdus Salam, penerima Nobel Fisika, 1979

Cinta terhadap Ilmu akan membawa kita—umat islam– pada satu proses pendewasaan dalam berpikir dan bertindak. Cara berpikir tersebut akan membuat kita sedikit demi sedikit mengasah dan memperuncing curiosity atau rasa keingintahuan kita terhadap apapun. Rasa ingin tahu itu kemudian menjadikan kita bersikap kritis dan menjadi sosok yang selalu curiga akan kebenaran yang tentu saja untuk mencari kebenaran yang sebenarnya. Selain itu pula akan mendorong kita untuk terus belajar demi menemukan kebenaran itu.

Bukti cinta terhadap ilmu tersebut bisa kita temui pada ilmuwan-ilmuwan muslim yang menjadi pemikir dan pelopor hebat di bidang sains modern dan disiplin ilmu lainnya yang penemuan dan teorinya masih digunakan hingga saat ini. Para ilmuwan tersebut—dengan kecerdasan luar biasa yang dikaruniakan Allah—telah membawa mereka pada satu fase dimana mereka harus menjadi manusia yang tinggi derajatnya dengan ilmu pengetahuan. Kemudian lahirlah para pemikir dan pelopor yang sholeh lagi cerdas yang banyak mempelopori penemuan dalam berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan. Para pemikir dan pelopor tersebut yaitu Al-Razi yang merupakan ilmuwan pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga ilmuwan pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Ibnu Sina yang dikenal di Eropa dengan nama Avicenna, ilmuwan berbahasa Parsi dari Abad 10 memiliki kontribusi terhadap penelitian alam dan filsafat agama. Dia seorang filosof yang berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Buku yang terkenal dari ilmuwan ini yaitu Qanun fi al-Thibb atau The Canon of Medicine (undang-undang kedokteran) diajarkan kepada calon dokter di berbagai universitas di Perancis dan Italia dari abad ke-12 sampai ke-16. Undang-undang kedokteran tersebut juga merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Ilmuwan dalam bidang optik yaitu Abu Ali al-Hasan Ibn. al-Haythami, yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen, dia terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya yaitu benda-lah yang mengirim cahaya ke mata. Dalam bidang astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe[1]. Selain itu adalah al-Fargani, yaitu pakar astronomi yang karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis dan namanya diganti menjadi al-Faragnus. Dalam bidang kimia, terkenal nama Jabir ibn Hayyan yang menemukan bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Dalam bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi yang juga mahir dalam bidang astronomi. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. Kata “aljabar” berasal dari judul bukunya, al-Jabr wa al-Muqoobalah. Dalam bidang sejarah Islam terkenal nama at-Tabari, al-Biruni, dan al-Mas’udi. Al-Mas’udi juga dikenal sebagai ahli dalam ilmu geografi. Diantara karyanya adalah Muruj al-Zabab wa Ma’adin al-Jawahir. Dan masih banyak lagi ilmuwan-ilmuwan muslim dan karyanya yang ikut berkontribusi banyak dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada zamannya yang tidak dapat disebutkan semuanya.

Tentunya ada latar belakang dan motivator yang mendasari ilmuwan-ilmuwan di atas dalam menemukan penemuan-penemuan hebat tersebut. Motivasi besar mereka berawal dari ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dalam dua panduan umat Islam tersebut, yakni Al-Qur’an dan Hadits telah mendorong umat Islam untuk menjunjung ilmu pengetahuan setinggi-tingginya dan menghargai para ‘ulama atau ilmuwan. Motivasi tersebut telah membawa para ilmuwan untuk menguasai ilmu pengetahuan melalui penjelajahan-penjelajahan intelektual ilmiah sehingga memberikan kontribusi untuk peradaban Islam berupa penemuan-penemuan hebat dalam berbagai bidang. Penemuan-penemuan tersebut tidak muncul begitu saja, namun melalui berbagai perjalanan ilmiah berupa penerjemahan buku-buku warisan Yunani misalnya, penelaahan terhadap karya yang sudah terlebih dahulu ada seperti karya-karya dari ilmuwan Yunani, pengujian-pengujian terhadap teori yang ada, pengamatan, dan sebagainya.

Satu bukti kejayaan peradaban Islam yang paling hebat adalah adanya pusat studi Islam dan pembelajaran multidisiplin Ilmu di Baghdad pada kekuasaan Dinasti Abbasiyah  (217H/832M), yaitu Bayt al-Hikmah. Bayt-al-Hikmah awalanya merupakan perpustakaan pribadi Khalifah Harun Al-Rasyid (786-808M), kemudian pada pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun (813-833M) dijadikan center of learning atau pusat pembelajaran. Pembelajaran tersebut berupa penerjemahan karya-karya peninggalan peradaban besar Yunani, Romawi, Mesir dan Persia. Seperti contoh pada zaman khalifah al-Ma’mun, karya-karya Aristoteles diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, sehingga orang-orang Eropa kemudian pada suatu saat tinggal menerjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Proses penerjemahan inilah yang menjadi awal mula munculnya ilmu pengetahuan baru di Arab yang kemudian menyebar hingga ke Barat. Jika saja pada masa kepemimpinan Khalifah al-Ma’mun tidak ada proses penerjemahan karya-karya klasik peradaban sebelumnya, maka sebuah ketidakniscayaan bahwa ilmu pengetahuan tersebut akan sampai ke Barat karena warisan ilmu dari peradaban besar (Yunani, Romawi, Mesir, dan Persia) ketika hancur sama sekali tidak tersentuh oleh pikiran bangsa manapun, kecuali orang-orang Arab dibawah kepemimpinan khalifah yang mencintai dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.

Betapa hebatnya para ilmuwan yang merupakan jebolan Akademi Ilmiah terbaik Bayt al-Hikmah pada masa itu. Mereka berperan dalam membangun peradaban Islam. Mereka—demikian karena amat besar kecintaan mereka terhadap ilmu pengetahuan, terlebih lagi khalifah pada masa itu yang juga memberikan perhatian lebih terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Untuk itu, kita seharusnya semakin menyadari bahwa ilmu pengetahuan merupakan batu loncatan awal kebangkitan peradaban. Kemudian muncul sebuah perasaan sedih ketika masih ditemukan seorang pemimpin yang lebih mementingkan sektor ekonomi ketimbang sektor keilmuwan (pendidikan) yang sudah pasti akan menciptakan manusia-manusia cerdas yang siap membangun peradaban bangsa. Perlu diketahui bahwa peradaban berkolerasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Untuk itu diperlukan sebuah keinginan kuat yang berlandaskan keilmuwan (Qur’an dan Hadits) untuk membangun dan membangkitkan peradaban yang gemilang. Wallahu a’lam.

Referensi :

Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam “Islamia” Vol. V no. 1

Masood, Ehsan. 2009. Ilmuwan-ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.


[1] Alat/pengukur letak planet/bintang-bintang. (Al Barry, M.Dahlan. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya : Penerbit Arkola)

Popularity: 21% [?]

About admin