<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Formasi FIB UI &#187; Tazkiyatun Nafsi</title>
	<atom:link href="http://formasi-fib-ui.org/blog/category/tazkiyatun-nafsi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://formasi-fib-ui.org/blog</link>
	<description>Forum Amal dan Studi Islam FIB UI</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Aug 2010 03:20:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menyongsong Sukses Semester Baru</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/menyongsong-sukses-semester-baru.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/menyongsong-sukses-semester-baru.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Aug 2010 07:56:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thaushiah]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[semester baru]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=653</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang kenal dengan waktu? Ya, jika kita mengenal waktu tentu kita tahu ia sangat tegas, tidak kenal kompromi, dengan makhluk apapun. Waktu terus berjalan ke depan tanpa pernah berhenti sesaat apalagi bergerak mundur. Waktu akan menggerus zaman dan usia setia penggunanya, termasuk kita, manusia. Dan sejarah akan terus terukir tiap detiknya dari tiap jejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-654" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/thaushiah/menyongsong-sukses-semester-baru.html/attachment/change-ahead-power-point-1"><img class="size-medium wp-image-654 alignleft" title="Change Ahead Power Point 1" src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/08/Change-Ahead-Power-Point-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Ada yang kenal dengan waktu? Ya, jika kita mengenal waktu tentu kita tahu ia sangat tegas, tidak kenal kompromi, dengan makhluk apapun. Waktu terus berjalan ke depan tanpa pernah berhenti sesaat apalagi bergerak mundur. Waktu akan menggerus zaman dan usia setia penggunanya, termasuk kita, manusia. Dan sejarah akan terus terukir tiap detiknya dari tiap jejak sang waktu.</p>
<p>Begitu banyak kisah tetidak kenal kompromi, dengan makhluk apapun. Waktu terus berjalan ke depan tanpa pernah berhenti sesaat apalagi bergerak mundur. Waktu akan menggerus zaman dan usia setiap penggunanya, termasuk kita, manusia. Dan sejarah akan terus terukir tiap detiknya dari tiap jejak sang waktu.</p>
<p>Begitu banyak kisah tentang mesin waktu, namun sayangnya itu hanya khayalan dan bentuk kelemahan manusia terhadap waktu, ya, sebatas imajinasi. Para pembaca yang budiman, sekarang kita tidak pada dimensi Doraemon dan sebagainya, kita hidup di dunia real! Hidup di dunia hanya dengan dua pilihan, membuat sejarah atau menjadi sejarah. Suatu pilihan yang pasti kita akan lalui salah satunya.</p>
<p>Kini kita menatap semester baru, sesuatu yang pasti kita hadapi dan pasti akan berlalu. Tangisan dan kesedihan masa lalu tidak akan dapat merubah masa depan. Kesuksesan kemarin bukan jaminan akan terulang hari esok. Karena yakinlah sobat, hanya hari ini, ya, detik ini yang bisa merubah dan menghasilkan hari esok.<br />
“… Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan…”(QS 2: 148). Inilah pesan dari sang pencipta waktu, sebuah rasa cinta terhadap makhluknya agar dapat mengarungi kehidupan dengan kesuksesan. Selalu memiliki jiwa kompetisi dengan usia yang kian tergerus, karena hakikat sebuah kehidupan adalah bergerak dan bekerja yang harus dibumbui dengan kebaikan serta ditmbah sebuah cita rasa kompetisi. Indah bukan   pesanNya? Jika semester lalu ada sebuah kegagalan, maka rancanglah sebuah strategi kemenangan yang digerakan dengan sebuah tindakan detik ini, sekarang. Sobat, yakinkan pada diri, semester ini bukan saatnya kita menjadi seorang yang merugi dengan mendapat hasil yang sama seperti semester kemarin, bahkan menjadi orang yang celaka karena lebih buruk. Tapi tekadkan bersama bahwa kita siap menyongsong kesuksesan dan kemenangan esok yang dimulai hari ini. Karena kita esok adalah kita yang hari ini.<br />
“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (al-An’am: 132). Allhua’lam bishowab.</p>
<p>oleh: Alvin Prasetyadi (Ketua Formasi 2 Dekade)</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=653&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/menyongsong-sukses-semester-baru.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Qur&#8217;an: Mukjizat Terhebat!</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/al-quran-mukjizat-terhebat.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/al-quran-mukjizat-terhebat.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Aug 2010 07:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thaushiah]]></category>
		<category><![CDATA[al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[mukjizat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-650" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/thaushiah/al-quran-mukjizat-terhebat.html/attachment/quran-rehal-and-chandler"><img class="size-medium wp-image-650 alignleft" title="quran-rehal-and-chandler" src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/08/quran-rehal-and-chandler-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS.Al-Imran:190-191)</p>
<p>Bila mendengar kata mukjizat, pastinya teringat dengan kisah para Nabi dan Rasul Allah yang diberikan kelebihan melebihi orang biasa. Ya, bahwa setiap rasul telah Allah berikan mukjizat yang berbeda-beda sebagai bukti agar kaumnya beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Ingatkah dengan kisah Nabi Ibrahim as yang  dilemparkan ke dalam api oleh raja Namrud dikarenakan  beliau melawan raja kafir tersebut?  Apakah api membakar seluruh tubuhnya? Nyatanya Allah memerintahkan api supaya menjadi dingin sehingga Nabi Ibrahim as selamat. Atau tentang nabi Musa as. yang mampu membelah laut Merah agar terbebas dari kejaran pasukan Firaun hingga Firaun dan pasukannya tenggelam di Laut Merah?<span id="more-646"></span></p>
<p>Mukjizat yang tidak kalah hebatnya adalah tatkala nabi Isa as. Menyembuhkan orang buta dan sakit kusta, sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Imran ayat 3 yang berbunyi, “Dan aku sembuhkan orang buta dan sakit kusta, dan aku hidupkan orang mati dengan izin Allah.” Perbuatan nabi Isa as memang ajaib pada zaman itu. Sampai-sampai beliau dianggap anak Tuhan karena hanya Tuhan-lah yang bisa menghidupkan orang mati.</p>
<p>Namun ada mukjizat yang terhebat dan berbeda sampai saat ini dan tidak ada yang bisa menandingi. Mukjizat terbesar yang Allah berikan kepada Rasul terakhir, seorang Khatamul Anbiya bernama Muhammad SAW yaitu sebuah kitab suci Al-Qur’an. Mengapa dikatakan demikian? Karena  keajaiban Al-Quran justru semakin lama dipahami semakin mengagumkan, mencengangkan sekaligus menggetarkan, sesuai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dengan pesat. Oleh sebab itulah umat Islam dituntut dari waktu ke waktu untuk belajar dan terus belajar, mempelajari dan memperhatikan segala apa yang telah diciptakan-Nya. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” QS.Al-Mujadillah : 11.</p>
<p>Al-Qur’an mengandung ayat-ayat yang merupakan sumber ilmu pengetahuan dan teknologi. Beberapa ayat telah terbukti melalui penelitian ilmiah dan pengalaman empiris. Terbukti dari penelitian yang dilakukan oleh seorang guru besar ilmu bedah berkebangsaan Prancis bernama Prof. Dr. Maurice Bucaille. Beliau berhasil menemukan mumi Firaun dan melakukan pembedahan. Hasil yang didapat membuatnya terkejut karena sel-sel saraf Firaun menunjukkan bahwa kematiannya benar akibat tenggelam di laut dengan <em>shock</em> yang hebat. Dengan ditemukannya bukti ini dan setelah membandingkan dengan apa yang dia baca dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 92, “maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” Begitu pula dalam surat Al-Baqarah ayat 50, “Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamakan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan”. Dari sinilah beliau meyakini bahwa Al-Qur’an itu benar-benar wahyu Allah. Semua ayat Al-Qur’an masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Sejak itulah Prof. Bucaille menjadi seorang Muallaf.</p>
<p>Contoh diatas barulah sebagian kecil dari ayat Al-Qur’an. Masih banyak ayat-ayat yang bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah jika manusia mau memperhatikan dan mempelajarinya. Hal ini tak lain agar manusia dapat mengenal Sang Pencipta yaitu Allah Azza wa Jalla. Selain itu pula  Allah berkehendak agar manusia dapat ikut memahami dan mempelajari sebagian dari ilmu-Nya, bagaimana caranya Allah menciptakan alam semesta, bagaimana Allah menghamparkan bumi dan isinya, bagaimana Allah menciptakan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, dan mengapa pula bisa terjadi berbagai kejadian alam seperti hujan, angin, petir, badai dan sebagainya. Allah SWT sengaja memperlihatkan proses tersebut tahapan demi tahapan selain untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya sekaligus mempermudah manusia untuk mempelajarinya dan mau mensyukurinya. Wallahu’alam.</p>
<p>“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS.Al-Jatsiyah:13)</p>
<p>oleh: Winda Andriana dan Ummu Hanie (Staff Humas dan Media Islam Formasi)</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=646&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/al-quran-mukjizat-terhebat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuntunan Bertaubat kepada Allah SWT</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/tuntunan-bertaubat-kepada-allah-swt.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/tuntunan-bertaubat-kepada-allah-swt.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 04:34:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafsi]]></category>
		<category><![CDATA[taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=479</guid>
		<description><![CDATA[oleh Dr. Yusuf al Qaradhawi
Penjelasan Tentang Unsur-unsur yang Menciptakan Hakikat          Taubat
Dari penuturan Al Gazhali dan ulama lainnya dapat ditarik          pengertian: bahwa hakikat taubat yang diperintahkan Allah          SWT bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Dr. Yusuf al Qaradhawi</p>
<h3>Penjelasan Tentang Unsur-unsur yang Menciptakan Hakikat          Taubat</h3>
<p>Dari penuturan Al Gazhali dan ulama lainnya dapat ditarik          pengertian: bahwa hakikat taubat yang diperintahkan Allah          SWT bagi seluruh kaum mu&#8217;minin agar mereka beruntung, serta          memerintahkan agar mereka bertaubat dengan taubat nasuha,          terdiri dari beberapa unsur dan faktor yang tiga itu:          tersusun secara berurutan satu sama lain. Seperti dijelaskan          oleh Al Ghazali.</p>
<h4><a name="1"></a>1. Unsur pengetahuan dalam taubat</h4>
<p>Unsur atau faktor pertama dari unsur-unsur itu adalah          unsur pengetahuan. Yang tampak dalam pengetahuan manusia          akan kesalahannya dan dosanya ketika ia melakukan          kemaksiatan kepada Rabbnya, serta matanya terbuka sehingga          ia dapat melihat kesalahannya itu, melepaskan sumbatan dari          telinganya sehingga ia dapat mendengar, dan mengusir          kegelapan dari akalnya sehingga ia dapat berpikir, dalam          setiap kesempatan kembalinya diri kepada fithrahnya. Saat          itu ia akan mengetahui keagungan Rabbnya, kemuliaan          maqam-Nya dan kebesaran hak-Nya. Juga mengetahui kekurangan          dirinya, mengapa ia mengikuti syaitan, serta kerugiannya          yang jelas di dunia dan akhirat jika ia terus berjalan          mengikuti perilaku Iblis dan tentaranya.</p>
<p>Saat itu, manusia butuh untuk memusatkan pikirannya,          menggunakan akalnya, serta merenungi dengan dalam tentang          dirinya dan apa yang berada di sekelilingnya, nilai-nilai          yang ia miliki, perjalanan dirinya, akhir perjalanannya          kemana, makna kehidupannya, kematian dan apa setelah          kematiannya, tentang ni&#8217;mat Allah yang demikian besar          baginya, sikapnya terhadap ni&#8217;mat-ni&#8217;mat itu, tentang ni&#8217;mat          Allah yang terus turun kepadanya, dan kejahatan dirinya akan          dilaporkan kepada Allah. Allah SWT akan menghidupkan          cintanya dengan memberikan ni&#8217;mat kepadaanya walaupun Allah          SWT tidak butuh kepadanya. Ia mendorong kemarahan Allah          dengan melakukan maksiat, sedangkan ia adalah orang yang          amat membutuhkan Allah, dan Allah tidak menutup pintu-Nya          bagi hamba-hambaNya, meskipun mereka telah melampaui batas          terhdap diri mereka sendiri, dan Allah terus memanggil          mereka:</p>
<blockquote><p>&#8220;Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.             Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya&#8221;. (QS.             az-Zumar: 53)</p></blockquote>
<p>Kesadaran jiwa adalah pangkal pertama bagi bangunan          taubat. Dialah yang akan mendorong hati untuk menyesal,          kemudian bertekad untuk meninggalkan dosa itu, lidahnya          beristihgfar, kemudian tubuhnya mencegah dari melakukan dosa          itu.</p>
<p>Inilah yang diperingatkan oleh Al Quran dalam firman          Allah SWT:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan orang -orang yang telah diberi ilmu,             meyakini bahwasanya Al Qur&#8217;an itulah yang hak dari             Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka             kepadanya&#8221; (QS. al Hajj: 54.). Dengan runtutan ini yang             ditunjukkan oleh hurup sambung &#8220;fa&#8221;.</p></blockquote>
<p>Yang pertama adalah pengetahuan, yang dengannya manusia          mengetahui bahwa kebenaran adalah dari Rabb mereka. Dan itu          akan menyebabkan mereka mengimaninya. Dengan demikian, ilmu          pengetahuan adalah petunjuk dan pemimpin keimanan. Kemudian          keimanan itu akan mengantarkan pada ketundukan dan khusyunya          hati.</p>
<p>Allah SWT berfirman tentang sifat kaum muttaqin:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan             perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat             akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa             mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain             dari pada Allah? &#8211; Dan mereka tidak meneruskan perbuatan             kejinya itu, sedang mereka mengetahui&#8221;. (QS. Ali Imran:             135)</p></blockquote>
<p>Mereka itu menyebut Allah, dan meminta ampunan dari dosa          mereka kepadaNya. Istighfar itu terjadi akibat dzikir atau          mengingat Allah SWT. Dan dzikir di sini adalah suatu macam          pengetahuan. Karena yang dimaksud di sini bukan dzikir          dengan lidah, seperti disangka orang. Namun ia adalah          kebalikan dari lupa dan kealpaan. Dan ia adalah bagian dari          macam-macam pengetahuan. Seperti firman Allah SWT:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa.&#8221;             (QS. al Kahfi: 24)</p></blockquote>
<p>Ilmu pengetahuan dalam Islam didahulukan dari keadaan          jiwa dan perbuatan tubuh. Oleh karena itu, tidak aneh jika          ayat yang pertama diturunkan dalam Al Quran adalah:</p>
<blockquote><p>&#8220;Bacalah dengan nama Tuhan-mu yang telah             menciptakan.&#8221; (QS. al &#8216;Alaq: 1)</p></blockquote>
<p>dan membaca adalah kunci ilmu pengetahuan.</p>
<p>Imam Al Bukhari berkata dalam shahihnya: bab: &#8220;Ilmu          sebelum beramal&#8221;. Ia berdalil dengan firman Allah SWT:</p>
<blockquote><p>&#8220;Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada             Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan             bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu&#8217;min, laki-laki             dan perempuan&#8221;. (QS. Muhammad: 19)</p></blockquote>
<p>Maka di sini didahulukan perintah untuk berilmu dari          perintah untuk beristighfar.</p>
<p>Al Qusyairi berkata dalam kitabnya &#8220;Risalah Qusyairiah&#8221;:          taubat yang pertama adalah: bangunnya hati dari kelalaian,          serta sang hamba melihat kondisi yang buruk akibat dosa yang          ia poerbuat. Dan itu akan mendorongnya untuk mengikuti          dorongan hati nuraninya agar tidak melanggar perintah Allah          SWT. Karena dalam khabar disebutkan: &#8220;penasehat dari Allah          SWT terdapat dalam hati setiap orang muslim&#8221;. (Hadits          diriwayatkan oleh Ahmad dari An Nuwas bin Sam&#8217;an). Dan dalam          khabar:</p>
<blockquote><p>&#8220;Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal             daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika             ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, ketahuilah itulah             hati&#8221;. (Hadits muttafaq alaih dari Nu&#8217;man bin Basyir).</p></blockquote>
<p>Jika hatinya merenungkan keburukan perbuatannya, serta ia          menyadari dosa-dosa yang ia perbuat itu, niscaya daam          hatinya akan terdetik keinginan untuk bertaubat, dana          menjauhkan diri dari melakukan tindakan-tindakan yang buruk          itu. Kemudian Allah SWT akan membantunya dengan menguatkan          tekadnya itu, melakukan tindakan koreksional atas          dosa-dosanya, serta melakukan perbuatan-perbuatan yang          seharusnya dalam bertaubat. (Risalah Qusyairiah dengan          tahqiq Dr. Abdul Halim Mahmud, dan Dr. Mahmud bin Syarif,          (juz 1/ 254, 255))</p>
<h4><a name="2"></a>2. Unsur Hati dan Keinginan</h4>
<p>Unsur kedua dalam taubat adalah: unsur jiwa, yang          berhubungan dengan hati dan keinginan diri. Atau dengna kata          lain: emosi dan inklinasi.</p>
<p>Dari unsur ini ada yang berhubungan dengan masa lalu, dan          ada yang berhubungan dengan masa depan.</p>
<h4><a name="2a"></a>a. Menyesal dengan sangat</h4>
<p>Yang berkaitan dengan masa lalu adalah apa ang kita kenal          dengan penyesalan. Tentang ini terdapat hadits: &#8220;penyesalan          adalah taubat&#8221;. Karena ia adalah bagian yang paling penting          dari taubat. Seperti dalam hadits &#8220;Hajji adalah Arafah&#8221;.          Karena ia adalah rukun yang paling penting dalam hajji itu.          al Qusyairi mengutip dari beberapa ulama: penyesalan itu          cukup untuk mewujudkan taubat. Karena penyesalan itu akan          menghantarkan kepada dua rukun lainnya, yaitu tekad dan          meninggalkan perbuatan dosa. Adalah mustahil jika ada          seseorang yang menyesali tindakan yang masih terus ia          lakukan atau ingin ia lakukan kembali.</p>
<p>Penyesalan adalah: perasaan, emosi atau gerak hati. Yaitu          suatu bentuk penyesalan dalam diri manusia atas perbuatan          dosa yang ia lakukan terhadap Rabbnya, terhadap makhluk yang          lain dan bagi dirinya sendiri. Ini adalah penyeslan yang          mirip dengan api yang membakar hati dengan sangat. Malah ia          akan merasakannya seperti dipanggang ketika ia mengingat          dosanya, sikap pelanggarannya serta hak Rabbnya atasnya. Itu          adalah kondisi &#8220;terbakar di dalam&#8221; yang diungkapkan oleh          sebagian kaum sufi ketika mereka mendefinisikan taubat:          melelehkan lemak (yang terkumpul) karena kesalahan masa          lalu. Dan yang lain berkata: ia adalah api hati yang          membakar, serta sakit dalam hati yang tidak terobati!.</p>
<p>Al Quran telah mendeskripsikan sisi jiwa ini bagi          beberapa orang yang melakukan taubat, dengan deskripsi yang          amat bagus. Yaitu dalam kisah tiga sahabat yang absen dari          mengikuti perang yang besar bersama Rasulullah Saw, yaitu          perang Tabuk. Yang merupakan peperangan pertama Rasulullah          Saw dengan negara yagn paling kuat di dunia saat itu: negara          Romawi. Mereka tidak mengungkapkan alasan bohong seperti          kaum munafik, maka Rasulullah Saw memerintahkan untuk          mengucilkan mereka. Kemudian mereka menyesali perbuatan          mereka itu dengan sangat, dan dilukiskan oleh Al Quran          sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan             (penerimaan taubat ) mereka, hingga apabila bumi telah             menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan             jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka,             serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari             dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian             Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam             taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima             taubat lagi Maha Penyayang&#8221;. (QS. at-Taubah: 118)</p></blockquote>
<p>Oleh karena itu Dzun-Nun al Mishri berkata: hakikat          taubat adalah: engkau merasakan bumi yuang luas ini menjadi          sempit karena dosamu, hingga engkau tidak dapat lari          darinya, kemudian kesempitan itu engkau rasakan dalam          dirimu. Seperti diungkapkan oleh al Quran: &#8220;dan jiwa          merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka&#8221;.</p>
<p>Di antara bentuk penyesalan adalah: mengakui dosa, dan          tidak lari dari pertanggungjawaban dosa itu, serta meminta          ampunan dan maghfirah dari Allah SWT.</p>
<p>Seperti kita temukan dalam kisah Adam setelah beliau dan          istirnya memakan pohon yang dilarang itu:</p>
<blockquote><p>&#8220;Keduanya berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, kami telah             menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak             mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya             pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi&#8221;. (QS. al             A&#8217;raf: 23)</p></blockquote>
<p>Dan seperti kita temukan dalam kisah Nuh ketika ia          meminta ampunan kepada Rabbnya atas anaknya yang kafir. Dan          jawaban Ilahi terhadapnya adalah:</p>
<blockquote><p>&#8220;Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk             keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan),             sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik.             Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang             kamu tidak mengetahui (hakekat) nya. Sesungguhnya Aku             memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk             orang-orang yang tidak berpengetahuan&#8221;. (QS. Huud: 46)</p></blockquote>
<p>Di sini Nuh a.s. merasakan kesalahannya, dan iapun          menyesalinya. Serta berkata:</p>
<blockquote><p>&#8220;Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada             Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada             mengetahui (hakekatnya) . Dan sekiranya Engkau tidak             memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan             kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang             merugi&#8221;. (QS. Huud: 47)</p></blockquote>
<p>Dan seperti kita lihat dalam kisah Musa, ketika beliau          memukul seorang laki-laki dari Koptik dan menewaskannya:</p>
<blockquote><p>Musa berkata: &#8216;Ini adalah perbuatan syaitan             sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan             lagi nyata (pemusuhannya)&#8217;. (QS. al Qashash: 15-16)</p></blockquote>
<p>Juga kita lihat dalam kisah nabi Yunus:</p>
<blockquote><p>&#8220;Ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia             menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya             (menyulitkannya), maka dia menyeru dalam keadaan yang             sangat gelap: &#8220;Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak             disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya             aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.&#8221; (QS. al             Anbiyaa: 87)</p></blockquote>
<p>Meskipun jika kita perhatikan dosa-dosa yang diperbuat          oleh para Rasul itu adalah dosa-dosa kecil, terutama jika          kita perhatikan situasi dan kondisi terjadinya dosa itu,          maka dosa-dosa itu memang ringan. Namun para Rasul itu,          karena halusnya perasaan mereka, hati mereka yang hidup,          serta perasaan mereka yang kuat akan hak Rabb mereka, maka          mereka melihat dosa itu sebagai dosa yang amat besar, mereka          mengakui kesalahan diri mereka, dan merekapun segera memohon          ampunan dan maghfirah dari Rabb mereka, karena Dia adalah          Maha Pengampun dan Maha Penyayang.<a href="http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/tuntunan-bertaubat-kepada-allah-swt.html/attachment/sujud" rel="attachment wp-att-502"><img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/05/sujud-150x150.jpg" alt="" title="sujud" width="150" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-502" /></a></p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=479&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/tuntunan-bertaubat-kepada-allah-swt.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekuntum Cinta Untuk Bunda</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/sekuntum-cinta-untuk-bunda.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/sekuntum-cinta-untuk-bunda.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 07:41:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thaushiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=475</guid>
		<description><![CDATA[Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu.” Beliau menjawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-476" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/thaushiah/sekuntum-cinta-untuk-bunda.html/attachment/ibu_nganter_ke_sekolah2"><img class="alignleft" title="bunda" src="../wp-content/uploads/2010/05/ibu_nganter_ke_sekolah2-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu.” Beliau menjawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti mendurhakainya.” (Uyunul Akhyar, karya Ibnu Qutaibah)</p>
<p>Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain. Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, “Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Ibunya menjawab, “Dan untukmu keselamatan wahai anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.” Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak memasuki rumah.” ( Adab al-Mufrad, karya Imam Bukhari)</p>
<p>Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.” ( Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)</p>
<p>Sufyan bin Uyainah mengatakan, “ Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang tersebut enggan duduk karena ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang di dapatkan anaknya. ( Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)</p>
<p>Haiwah binti Syuraih adalah seorang ulama besar, suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. “Hai Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum.” Mendengar panggilan ibunya beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya. (ibid. )</p>
<p>Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi melihat seekor kalajengking berada dalam rumahnya, beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata beliau kalah cepat, kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam liangnya. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalam liang untuk menangkap kalajengking tersebut. Beliaupun tersengat kalajengking. Melihat tindakan seperti itu ada orang yang berkomentar, “Apa yang kau maksudkan dengan tindakan seperti itu.” Beliau mengatakan, “Aku khawatir kalau kalajengking tersebut keluar dari liangnya lalu menyengat ibuku.” ( Nuhzatul Fudhala’)</p>
<p>Muhammad bin Sirin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya. (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa ku berikan pasti ku berikan.” (Diambil dari Shifatush Shafwah)</p>
<p>Hafshah binti Sirin mengatakan, “Ibu dari Muhammad bin Sirin sangat suka celupan warna untuk kain. Jika Muhammad bin Sirin memberikan kain untuk ibunya, maka beliau belikan kain yang paling halus. Jika hari raya tiba, Muhammad bin Sirin mencelupkan pewarna kain untuk ibunya. Aku tidak pernah melihat Muhamad bin Sirin bersuara keras di hadapan ibunya. Apabila beliau berkata-kata dengan ibunya, maka beliau seperti seorang yang berbisik-bisik. (Siyar A’lam an-Nubala’, karya adz-Dzahabi).</p>
<p>Ibnu Aun mengatakan, “Suatu ketika ada seorang menemui Muhammad bin Sirin pada saat beliau sedang berada di dekat ibunya. Setelah keluar rumah beliau bertanya kepada para sahabat Muhammad bin Sirin, “ Ada apa dengan Muhammad, apakah dia mengadukan suatu hal? Para sahabat Muhammad bin Sirin mengatakan, “Tidak. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya jika berada di dekat ibunya.” (ibid )</p>
<p>Humaid mengatakan, tatkala Ibu dari Iyas bin Muawiyah meninggal dunia, Iyas menangis, ada yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, “Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup.” ( Bir wasilah, karya Ibnul Jauzi)</p>
<p>Uwais al-Qorni</p>
<p>Dari Asir bin Jabir beliau mengatakan, “Jika para gubernur Yaman menemui khalifah Umar Ibnul Khatthab, maka khalifah selalu bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir?? ”,</p>
<p>Sampai suatu hari beliau bertemu dengan Uwais, beliau bertanya, “engkau Uwais bin Amir?”, “Betul” Jawabnya. Khalifah Umar bertanya, “Engkau dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn?”,<br />
“Betul,” sahutnya. Beliau bertanya, “Dulu engkau pernah terkena penyakit belang lalu sembuh akan tetapi masih ada belang di tubuhmu sebesar uang dirham?”, “Betul.” Beliau bertanya, “Engkau memiliki seorang ibu.”</p>
<p>Khalifah Umar mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Uwais bin Amir akan datang bersama rombongan orang dari Yaman dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn. Dahulu dia pernah terkena penyakit belang, lalu sembuh, akan tetapi masih ada belang di tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.” Maka mohonkanlah ampun kepada Allah untukku, Uwais al-Qarni lantas berdoa memohonkan ampun untuk Umar Ibnul Khaththab. Setelah itu Umar bertanya kepadanya, “Engkau hendak pergi ke mana? “Kuffah,” jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Maukah ku tuliskan surat untukmu kepada gubernur Kuffah agar melayanimu? Uwais al-Qorni mengatakan, “Berada di tengah-tengah banyak orang sehingga tidak dikenal itu lebih ku sukai.” (HR. Muslim)</p>
<p>***</p>
<p>Dari Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Celakalah dia, celakalah dia”, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1758, ringkasan)</p>
<p>“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS. Luqman : 14).</p>
<p>Sumber : Inspiring Stories II, Facebook</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=475&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/sekuntum-cinta-untuk-bunda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersaudara dan Saling Menasihati</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/bersaudara-dan-saling-menasihati.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/bersaudara-dan-saling-menasihati.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 20:57:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thaushiah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[formasi-fib-ui.org&#8211;29 April 2010. Api peperangan di lembah Badr telah padam. Perang ini berakhir dengan kemenangan Dienul Haq (agama yang benar) atas Dienul Kufr. Sejumlah 14 mujahid muslimin syahid; 6 orang dari pihak Muhajirin, sisanya 8 orang dari pihak Anshar. Di lain pihak sebanyak 70 orang tentara musyrik Makkah ditawan, dan 70 orang lainnya tewas. Kebanyakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>formasi-fib-ui.org&#8211;29 April 2010. Api peperangan di lembah Badr telah padam. Perang ini berakhir dengan kemenangan Dienul Haq (agama yang benar) atas Dienul Kufr. Sejumlah 14 mujahid muslimin syahid; 6 orang dari pihak Muhajirin, sisanya 8 orang dari pihak Anshar. Di lain pihak sebanyak 70 orang tentara musyrik Makkah ditawan, dan 70 orang lainnya tewas. Kebanyakan dari mereka adalah para pemuka dan pembesar Makkah.</p>
<p>Sebelum Islam datang, masyarakat Arab hidup dalam sistem &#8216;ashabiyyah yang fanatik terhadap qabilah (suku) dan keturunan. Hubungan mereka kepada suku dan keturunan adalah hubungan hidup dan mati. &#8220;<em>Bela saudaramu salah atau benar</em>&#8220;, itulah semboyan mereka yang diterjemahkan secara harfiah. Hidup dan mati mereka dipersembahkan untuk menjaga kehormatan dan keberlangsungan suku dan keturunan. (Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, Ar-Rahiqul Makhtum, hal. 45)</p>
<p>Dan di perang Badr ini (Ramadhan 2 H), perang pertama dalam sejarah perjalanan Islam, justru mereka orang-orang Muhajirin Makkah khususnya berperang melawan saudara, keturunan dan suku, bahkan ada yang berperang melawan ayah, paman atau anaknya sendiri, yang berbeda aqidah. Umar bin Al-Khaththab membunuh pamannya, &#8216;Ash bin Hisyam yang kafir. Abu Bakr berperang melawan anaknya, Abdurrahman yang ketika itu belum memeluk Islam.</p>
<p>Lain lagi kisah antara Mush&#8217;ab bin Umair dan saudara kandungnya, Abu Aziz bin Umair. &#8220;<em>Perkuat ikatannya, ibunya adalah orang yang kaya raya. Siapa tahu ia akan menebus anaknya dengan tawaran yang mahal</em>&#8220;, pinta Mush&#8217;ab kepada orang Anshar yang menawan Abu Aziz sebagai tawanan perang Badr.</p>
<p>&#8220;<em>Beginikah caramu memperlakukan saudara kandungmu?</em>&#8216; tanya Abu Aziz heran. &#8220;<em>Kamu bukan saudaraku. Tapi orang yang menahanmu itulah saudaraku,</em>&#8221; jawab Mush&#8217;ab (wafat 3 H) dengan tegas.</p>
<p>Islam telah merajut tali persaudaraan antara sesama pemeluknya tanpa mengenal batas hubungan darah, warna kulit, status sosial dan batas negara. Dan hal tersebut telah dipraktikkan secara sempurna oleh generasi pertama Islam, para sahabat Nabi `.</p>
<p><strong>Ukhuwah dan Solidaritas</strong></p>
<p>Rasa ukhuwah (persaudaraan) yang dilahirkan Islam buat pemeluknya telah melahirkan sifat solidaritas sosial yang tinggi dalam kehidupan masyarakat Muslim dan dalam peradaban manusia. Al-Qur&#8217;an mengabadikan realitas tersebut.</p>
<p>&#8220;<em>Dan mereka (orang-orang Anshar) mengutamakan (Orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)</em>&#8221; (Al-Hasyr: 9).</p>
<p>Seorang lelaki mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasalam , tulis Ibn Katsir ketika menafsirkan ayat di atas tadi di dalam tafsirnya. &#8220;<em>Ya Rasulullah, saya sedang tertimpa kesusahan</em>&#8221; kata orang tadi mengadu-kan nasibnya. Si lelaki tadi disuruh mendatangi rumah isteri-isteri Nabi shallallahu alaihi wasalam . Namun, ia tidak menemukan bantuan karena mereka juga tidak punya.</p>
<p>&#8220;<em>Adakah seseorang yang mau menjamunya malam ini? Semoga Allah merahmatinya</em>&#8221; seru Rasulullah shallallahu alaihi wasalam kepada para sahabatnya.</p>
<p>&#8220;<em>Saya ya Rasulullah</em>&#8221; jawab Abu Thalhah, orang Anshar menyanggupi.</p>
<p>&#8220;<em>Ini tamu Rasulullah shallallahu alaihi wasalam , sediakan semua jamuan untuknya dan jangan disisakan</em>&#8221; pinta Abu Thalhah kepada istrinya setelah ia tiba di rumah. &#8220;<em>Tapi kita tidak punya makanan apapun kecuali makanan untuk anak-anak</em>&#8220;, jawab istrinya masygul.</p>
<p>&#8220;<em>Jika anak-anak minta makan ajaklah tidur, kemudian kamu ke sinilah lalu matikan lampu, dan biarlah kita sekeluarga lapar malam ini</em>&#8220;. Di kala pagi Abu Thalhah bertemu Rasulullah, lalu beliau bersabda: &#8220;<em>Allah merasa kagum (atau tertawa) kepada dia dan isterinya</em>&#8220;, kata Rasulullah ` memuji. (HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Islam telah mengikrarkan bahwa sesama Muslim adalah bersaudara. &#8220;<em>Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara</em>&#8221; (Al-Hujurat: 10). Ayat ini telah meletakkan dasar keimanan sebagai tali pengikat rasa ukhuwah. Perbedaan warna kulit, suku, bangsa dan status sosial telah disatukan Islam dalam kerangka Iman. Islam memprioritaskan seseorang berdasarkan status taqwanya.</p>
<p>Allah berfirman: &#8220;<em>Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu</em>&#8221; (Al-Hujuraat: 11).</p>
<p>Rasa ukhuwah yang tumbuh pada setiap jiwa orang mukmin merupakan nikmat Allah yang perlu diingat (disyukuri). Ukhuwah di dalam Islam mempunyai arti tersendiri. Penyebutan ukhuwah -sebagai suatu nikmat- didahulukan dari penyebutan diselamat-kannya orang-orang yang beriman dari neraka (lihat QS. Ali Imran: 103).</p>
<p>Rasa ukhuwah akan tumbuh subur jika sifat ananiyah (mementingkan diri sendiri), dan cinta dunia dikubur dalam-dalam. Untuk menghilangkan sifat ananiyah, Rasulullah shallallahu alaihi wasalam menjadikan rasa cinta kepada sesama Muslim sebagai bentuk kesempurnaan Iman.</p>
<p>&#8220;<em>Tidak (sempurna) iman seseorang hingga ia menginginkan bagi saudaranya apa yang ia inginkan untuk dirinya</em>&#8220;.(HR. Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Dan nilai-nilai keduniaan yang akan menjadi penghambat tumbuhnya rasa ukhuwah akan sirna jika manusia melihat dan merenungi asal-usulnya, dan menyadari bahwa kemuliaan yang hakiki di sisi Allah dinilai dari sisi ketaqwaannya.</p>
<p>Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalam bersabda: &#8220;<em>Wahai manusia, Tuhan kalian satu, dan bapak kalian satu, kalian berasal dari Adam, dan Adam dari tanah. Sesungguh-nya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Tidak ada keutamaan bangsa Arab atas bangsa lain, tidak pula bagi bangsa lain atas bangsa Arab, tidak ada keutamaan bagi kulit merah atas kulit putih dan bagi kulit putih atas kulit merah, melainkan dengan takwanya.</em>&#8221; (HR. Ahmad).</p>
<p>Rasa ukhuwah berwujud dalam bentuk solidaritas sosial. Solidaritas sosial di kalangan umat muslimin ada dua macam; dalam arti moral dan material. Solidaritas dalam arti material terdiri dari pemenuhan kebutuhan-kebutuhan masyarakat, perasaan ikut mengalami kesusahan yang diderita oleh anggota masyarakat, kesediaan untuk membantu memperjuangkan kepentingan bersama dalam rangka meningkatkan standar hidup masyarakat, dan pelayanan terhadap seluruh anggota masyarakat dalam hal-hal yang menguntungkan mereka.</p>
<p>Sedangkan solidaritas sosial dalam arti moral diwujudkan dalam bentuk kemauan untuk mengajak sesamanya untuk mengakui dan mengikuti kebenar-an serta menjauhi segala kemungkaran -al amru bil ma&#8217;ruf wannahyu &#8216;anil munkar.</p>
<p>Ukhuwah sejati adalah ukhuwah yang dibina atas dasar keimanan. Rasa ukhuwah yang dibangun bukan atas dasar iman –entah itu kepentingan pribadi atau kelompok- hanya akan langgeng jika aspek yang menguntungkan kepentingan tadi ada. Tanpa dasar keimanan, persaudaraan hanya akan menjadi sarana untuk meraih kepen-tingan duniawi, tak lebih dari itu.</p>
<p><strong>Berukhuwah dan Saling Menasihati</strong></p>
<p>Termasuk dari lima orang pertama yang masuk Islam adalah Abu Bakar (wafat 13 H). Abu Bakar adalah teman dekat Nabi shallallahu alaihi wasalam . Keduanya telah lama berteman jauh sebelum Nabi diangkat menjadi Nabi &amp; Rasul. Dan lewat persahabatan, Abu Bakar meng-Islamkan Usman bin Affan (wafat 40 H), Zubair bin Awwam (wafat 36 H), Abdurrahman bin Auf (wafat 34 H), Sa&#8217;d bin Abi Waqqas (wafat 55 H) dan Thalhah bin Ubaidillah (wafat 36 H). Di sini Abu Bakar menggunakan hubungan persahabatan untuk menyebarkan Islam kepada teman-temannya yang dikenal kepribadiannya dengan baik.</p>
<p>Menasehati teman (seseorang) yang telah dikenal baik, kemungkinan untuk diterima lebih besar. Nasehat tidak mesti harus diterima, kadang bahkan tidak diterima sama sekali. Diperlukan waktu dan pengulangan nasihat agar dapat diterima –jika Allah menghendaki. Al-Qur&#8217;an dan Al-Hadits pun menggunakan bahasa &#8216;pengulangan&#8217; untuk suatu perintah (baca: nasihat) tertentu.</p>
<p>Allah mengulang-ulang ayat yang artinya &#8220;maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan&#8221; seba-nyak 30 kali dalam satu surat (Ar-Rahman: 55). Tentunya ayat tersebut dilatarbela-kangi dengan hal yang tidak sama. Ikhlas dan mutaba&#8217;ah (mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasalam : berilmu) adalah syarat mutlak menasihati. Nasihat adalah imad (tiang) agama. (HR Muslim).</p>
<p>Jaga muru&#8217;ah (kehormatan) dan harga diri dengan memberi nasihat sesuai apa yang kita kerjakan. Bercerminlah sebelum menasihati. Orang akan mencibir dan mencemooh terhadap orang yang mengatakan apa yang tidak diperbuatnya. Allahpun amat benci terhadap orang yang bersifat seperti itu.(Ash-Shaff: 3). Meniru matahari yang selalu menerangi alam raya tanpa harus memusnahkan dirinya, rasanya lebih bijaksana daripada menjadi sebatang lilin yang menerangi sebidang ruang gelap tapi dengan membakar diri sendiri. Wallahu a&#8217;lam. (Asri Ibnu Tsani).</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=461&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/bersaudara-dan-saling-menasihati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The SIMS</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/the-sims.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/the-sims.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 17:22:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thaushiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-412" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/thaushiah/the-sims.html/attachment/the-sims"><img class="alignleft size-large wp-image-412" title="The SIMS" src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/04/The-SIMS-1018x1024.jpg" alt="" width="611" height="614" /></a></p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=411&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/the-sims.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dengki Penghancur Kebaikan</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/dengki-penghancur-kebaikan.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/dengki-penghancur-kebaikan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 12:14:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[17/4/2007 &#124; 00 Rabiuts Tsani 1428 H &#124; Hits: 4.844
Oleh: Tim dakwatuna.com


Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (Abu Daud).
Dengki (hasad), kata Imam Al-Ghazali, adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Dengki dapat merayapi hati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>17/4/2007 | 00 Rabiuts Tsani 1428 H | Hits: 4.844</p>
<p>Oleh: <a title="Profil dari Tim dakwatuna.com" href="http://www.dakwatuna.com/author/admin/">Tim dakwatuna.com</a></p>
<hr size="1" noshade="noshade" />
<p align="right"><a title="Kirim" href="http://www.dakwatuna.com/2007/dengki-penghancur-kebaikan/email/"></a><a title="Print" href="http://www.dakwatuna.com/2007/dengki-penghancur-kebaikan/print/"></a></p>
<p>Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (Abu Daud).</p>
<p>Dengki (hasad), kata Imam Al-Ghazali, adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Dengki dapat merayapi hati orang yang merasa kalah wibawa, kalah popularitas, kalah pengaruh, atau kalah pengikut. Yang didengki tentulah pihak yang dianggapnya lebih dalam hal wibawa, popularitas, pengaruh, dan jumlah pengikut. Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau lebih lemah. Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Kullu dzi ni’matin mahsuudun.” (Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki).</p>
<p>Hadits itu menegaskan kepada kita bahwa dengki itu merugikan. Yang dirugikan bukanlah orang yang didengki, melainkan si pendengki itu sendiri. Di antara makna memakan kebaikan, seperti yang disebutkan dalam hadits di atas, dijelaskan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, “Memusnahkan dan menghilangkan (nilai) ketaatan pendengki sebagaimana api membakar kayu bakar. Sebab kedengkian akan mengantarkan pengidapnya menggunjing orang yang didengki dan perbuatan buruk lainnya. Maka berpindahlah kebaikan si pendengki itu pada kehormatan orang yang didengki. Maka bertambahlah pada orang yang didengki kenikmatan demi kenikmatan sedangkan si pendengki bertambah kerugian demi kerugian. Sebagaimana yang Allah firmankan, “Ia merugi dunia dan akhirat.” (‘Aunul Ma’bud juz 13:168)</p>
<p>Hilangnya pahala itu hanyalah salah satu bentuk kerugian pendengki. Masih banyak kebaikan-kebaikan atau peluang-peluang kebaikan yang akan hilang dari pendengki, antara lain:</p>
<p>Pertama, mengalami kekalahan dalam perjuangan. Orang yang dengki perilakunya sering tidak terkendali. Dia bisa terjebak dalam tindakan merusak nama baik, mendiskreditkan, dan menghinakan orang yang didengkinya. Dengan cara itu ia membayangkan akan merusak citra, kredibilitas, dan daya tarik orang yang didengkinya. Dan sebaliknya, mengangkat citra, nama baik dan kredibilitas pihaknya. Namun kehendak Allah tidaklah demikian. Rasulullah saw. bersabda:</p>
<p>Dari Jabir dan Abu Ayyub Al-Anshari, mereka mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang pun yang menghinakan seorang muslim di satu tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menghinakan orang (yang menghina) itu di tempat yang ia inginkan pertolongan-Nya. Dan tidak seorang pun yang membela seorang muslim di tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan membela orang (yang membela) itu di tempat yang ia menginginkan pembelaan-Nya.” (Ahmad, Abu Dawud, Ath-Thabrani)</p>
<p>Kedua, meruntuhkan kredibilitas. Ketika seseorang melampiaskan kebencian dan kedengkian dengan melakukan propaganda busuk, hasutan, dan demarketing kepada pihak lain, jangan berangan bahwa semua orang akan terpengaruh olehnya. Yang terpengaruh hanyalah orang-orang yang tidak membuka mata terhadap realitas, tidak dapat berpikir objektif, atau memang sudah “satu frekuensi” dengan si pendengki. Akan tetapi banyak pula yang mencoba melakukan tabayyun, cari informasi pembanding, dan berusaha berpikir objektif. Nah, semakin hebat gempuran kedengkian dan kebencian itu, bagi orang yang berpikir objektif justru akan semakin tahu kebusukan hati si pendengki. Orang yang memiliki hati nurani ternyata tidak senang dengan fitnah, isu murahan, atau intrik-intrik pecundang. Di mata mereka orang-orang yang bermental kerdil itu tidaklah simpatik dan tidak mengundang keberpihakan.</p>
<p>Orang yang banyak melakukan provokasi dan hanya bisa menjelek-jelekkan pihak lain juga akan terlihat di mata orang banyak sebagai orang yang tidak punya program dalam hidupnya. Dia tampil sebagai orang yang tidak dapat menampilkan sesuatu yang positif untuk “dijual”. Maka jalan pintasnya adalah mengorek-ngorek apa yang ia anggap sebagai kesalahan. Bahkan sesuatu yang baik di mata pendengki bisa disulap menjadi keburukan. Nah, mana ada orang yang sehat akalnya suka cara-cara seperti itu?</p>
<p>Ketiga, mencukur gundul agama. Rasulullah saw. bersabda, “Menjalar kepada kalian penyakit umat-umat (terdahulu): kedengkian dan kebencian. Itulah penyakit yang akan mencukur gundul. Aku tidak mengatakan bahwa penyakit itu mencukur rambut, melainkan mencukur agama.” (At-Tirmidzi)</p>
<p>Islam adalah rahmat bagi sekalian alam. Akan tetapi Islam yang dibawa oleh orang yang di dadanya memendam kedengkian tidak akan dapat dirasakan rahmatnya oleh orang lain. Bahkan pendengki itu tidak mampu untuk sekadar menyungging senyum, mengucapkan kata ‘selamat’, atau melambaikan tangan bagi saudaranya yang mendapat sukses, baik dalam urusan dunia maupun terkait dengan sukses dalam perjuangan. Apatah lagi untuk membantu dan mendukung saudaranya yang mendapat sukses itu. Dengan demikian Islam yang dibawanya tidak produktif dengan kebaikan alias gundul.</p>
<p>Keempat, menyerupai orang munafik. Perilaku dan sikap pendengki mirip perilaku orang-orang munafik. Di antara perilaku orang munafik adalah selalu mencerca dan mencaci apa yang dilakukan oran lain terutama yang didengkinya. Jangankan yang tampak buruk, yang nyata-nyata baik pun akan dikecam dan dianggap buruk. Allah swt. menggambarkan perilaku itu sebagai perilaku orang munafik. Abi Mas’ud Al-Anshari –semoga Allah meridhainya– mengatakan, saat turun ayat tentang infaq para sahabat mulai memberikan infaq. Ketika ada orang muslim yang memberi infaq dalam jumlah besar, orang-orang munafik mengatakan bahwa dia riya. Dan ketika ada orang muslim yang berinfak dalam jumlah kecil, mereka mengatakan bahwa Allah tidak butuh dengan infak yang kecil itu. Maka turunlah ayat 79 At-Taubah. (Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Benarlah ungkapan seorang ulama salaf: “Al-hasuudu laa yasuud (pendengki tidak akan pernah sukses).” (Kasyful-Khafa 1:430).</p>
<p>Kelima, tidak mampu memperbaiki diri sendiri. Orang yang dengki, manakala mengalami kekalahan dan kegagalan dalam perjuangan cenderung mencari-cari kambing hitam. Ia menuduh pihak luar sebagai biang kegagalan dan bukannya melakukan muhasabah (introspeksi). Semakin larut dalam mencari-cari kesalahan pihak lain akan semakin habis waktunya dan semakin terkuras potensinya hingga tak mampu memperbaiki diri. Dan tentu saja sikap ini hanya akan menambah keterpurukan dan sama sekali tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun untuk mewujudkan kemenangan yang didambakannya.</p>
<p>Keenam, membuat gelap mata dan tidak dapat melihat kebenaran. Dengki membuat pengidapnya tidak dapat melihat kelemahan dan kekurangan diri sendiri; dan tidak dapat melihat kelebihan pada pihak lain. Akibatnya, jalan kebenaran yang terang benderang menjadi kelam tertutup mega kedengkian. Apa pun yang dikatakan, apa pun yang dilakukan, dan apa pun yang datang dari orang yang dibenci dan didengkinya adalah salah dan tidak baik. Akhirnya, dia tidak dapat melaksanakan perintah Allah swt. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, “Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang mempunyai akal.” (Az-Zumar:18)</p>
<p>Ketujuh, membebani diri sendiri. Orang yang membiarkan dirinya dikuasai oleh iri dengki hidupnya menanggung beban berat yang tidak seharusnya ada. Bayangkan, setiap melihat orang lain yang didengkinya dengan segala kesuksesannya, mukanya akan menjadi tertekuk, lidahnya mengeluarkan sumpah serapah, bibirnya berat untuk tersenyum, dan yang lebih bahaya hatinya semakin penuh dengan dengki, marah, benci, curiga, kesal, kecewa, resah, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Enakkah kehidupan yang penuh dengan perasaan itu? Tentu saja menyesakkan. Dalam bahasa Al-Qur’an, bumi yang luas ini dirasakan sumpek. Seperti layaknya penyakit, ketika dipelihara akan mendatangkan penyakit lainnya. Demikian pula penyakit hati yang bernama iri dengki. Bila dia tidak dihilangkan akan mengundang penyakit-penyakit lainnya. Maha Benar Allah yang telah berfirman, “Di dalam hati mereka ada penyakit maka Allah tambahkan kepada mereka penyakit (lainnya).” (Al-Baqarah: 10)</p>
<p>Betapa sulitnya kita menghimpun kebaikan dan meraih kemenangan. Maka janganlah diperparah dan dipersulit dengan membiarkan dengki menguasai hati kita. Mari berlomba dalam kebaikan. Allahu a’lam.</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=252&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/dengki-penghancur-kebaikan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Mengharap &#8220;Terima Kasih&#8221; dari Seseorang</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/jangan-mengharap-terima-kasih-dari-seseorang.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/jangan-mengharap-terima-kasih-dari-seseorang.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 13:55:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thaushiah]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Allah menciptakan para setiap hamba agar selalu mengingat-Nya, dan Dia menganugerahkan rezeki kepada setiap makhluk ciptaan-Nya...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-175" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/thaushiah/jangan-mengharap-terima-kasih-dari-seseorang.html/attachment/w"><img class="aligncenter size-full wp-image-175" title="hand" src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2009/11/w.jpg" alt="hand" width="401" height="207" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Allah menciptakan para setiap hamba agar selalu mengingat-Nya, dan Dia menganugerahkan rezeki kepada setiap makhluk ciptaan-Nya agar mereka bersyukur kepada-Nya. Namun, mereka justru banyak yang menyembah dan bersyukur kepada selain Dia. Tabiat untuk mengingkari, membangkang, dan meremehkan suatu kenikmatan adalah penyakit yang umum menimpa jiwa manusia. Karena itu, Anda tak perlu heran dan resah bila mendapatkan mereka mengingkari kebaikan yang pernah Anda berikan, mencampakkan budi baik yang telah Anda tunjukkan. Lupakan saja bakti yang telah Anda persembahkan. Bahkan, tak usah resah bila mereka sampai memusuhi Anda dengan sangat keji dan membenci Anda sampai mendarah daging, sebab semua itu mereka lakukan adalah justru karena Anda telah berbuat baik kepada mereka. <em>{Dan, mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya) kecuali karena Allah dan</em> <em>Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka.}</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>(QS. At-Taubah: 74)</strong></p>
<p style="text-align: center;">Coba Anda buka kembali catatan dunia tentang perjalanan hidup ini!Dalam salah satu babnya diceritakan: syahdan, seorang ayah telah memelihara anaknya dengan baik. la memberinya makan, pakaian dan minum, mendidikanya hingga menjadi orang pandai, rela tidak tidur demi anaknya, rela untuk tidak makan asal anaknya kenyang, dan bahkan, mau bersusah payah agar anaknya bahagia. Namun apa lacur, ketika sudah berkumis lebat<span id="more-146"></span></p>
<p style="text-align: center;">dan kuat tulang-tulangnya, anak itu bagaikan anjing galak yang selalu menggonggong kepada orang tuanya. la tak hanya berani menghina, tetapi juga melecehkan, acuh tak acuh, congkak, dan durhaka terhadap orang tuanya. Dan semua itu, ia tunjukkan dengan perkataan dan juga tindakan. Karena itu, siapa saja yang kebaikannya diabaikan dan dilecehkan oleh orang-orang yang menyalahi fitrahnya, sudah seyogyanya menghadapi semua itu dengan kepala dingin. Dan, ketenangan seperti itu akan mendatangkan balasan pahala dari Dzat Yang perbendaharaan-Nya tidak pernah habis dan sirna. Ajakan ini bukan untuk menyuruh Anda meninggalkan kebaikan yang telah Anda lakukan selama ini, atau agar Anda sama sekali tidak berbuat baik kepada orang lain. Ajakan ini hanya ingin agar Anda tak goyah dan terpengaruh sedikitpun oleh kekejian dan pengingkaran mereka atas semua kebaikan yang telah Anda perbuat. Dan janganlah Anda pernah bersedih dengan apa saja yang mereka perbuat. Berbuatlah kebaikan hanya demi Allah semata, maka Anda akan menguasai keadaan, tak akan pernah terusik oleh kebencian mereka, dan tidak pernah merasa terancam oleh perlakuan keji mereka. Anda harus bersyukur kepada Allah karena dapat berbuat baik ketika orang-orang di sekitar Anda berbuat jahat. Dan, ketahuilah bahwa tangan di atas itu lebih baik dari tangan yang di bawah. <em>{Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk</em> <em>mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak mengharapkan balasan dari kamu</em> <em>dan tidak pula (ucapan) terima kasih.}</em> <strong>(QS. Al-Insan: 9)</strong></p>
<p style="text-align: center;">Masih banyak orang berakal yang sering hilang kendali dan menjadi kacau pikiranya saat menghadapi kritikan atau cercaan pedas dari orangorang sekitarnya. Terkesan, mereka seolah-olah belum pernah mendengar wahyu Ilahi yang menjelaskan dengan gamblang tentang perilaku golongan manusia yang selalu mengingkari Allah. Dalam wahyu itu dikatakan:</p>
<p style="text-align: center;"><em>{Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.} </em><strong>(QS. Yunus: 12)</strong><em> </em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Anda tak perlu terkejut manakala menghadiahkan sebatang pena kepada orang bebal, lalu ia memakai pena itu untuk menulis cemoohan kepada Anda. Dan Anda tak usab kaget, bila orang yang Anda beri tongkat untuk menggiring domba gembalaannya justru memukulkan tongkat itu ke kepala Anda. Itu semua adalah watak dasar manusia yang selalu mengingkari</p>
<p style="text-align: center;">dan tak pernah bersyukur kepada Penciptanya sendiri Yang Maha Agung nan Mulia. Begitulah, kepada Tuhannya saja mereka berani membangkang dan mengingkari, maka apalagi kepada saya dan Anda.</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=146&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/jangan-mengharap-terima-kasih-dari-seseorang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah renungan saat kemalangan datang menerjangmu</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/sebuah-renungan-saat-kemalangand-atang-menerjangmu.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/sebuah-renungan-saat-kemalangand-atang-menerjangmu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 07:26:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[NAKSI (Nasihat Kebaikan Formasi)]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[

saat terbaring karena sakit, aku menemukan penggalan pesan Hamd bin Abdullah Ad dusari dalam bukunya Ash Shihah wal Maradh yang tergeletak dalam lemari buku. iseng – iseng kubaca buku itu, ternyata aku menemukan pesan itu, pesan yang dengan sekejap bisa mengobati rasa sakit dalam hatiku yang menjalar. ah, langsung saja kutuliskan kembali poesan itu untukmu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p style="text-align: left;">saat terbaring karena sakit, aku menemukan penggalan pesan <strong>Hamd bin Abdullah Ad dusari</strong> dalam bukunya <em>Ash Shihah wal Maradh</em> yang tergeletak dalam lemari buku. iseng – iseng kubaca buku itu, ternyata aku menemukan pesan itu, pesan yang dengan sekejap bisa mengobati rasa sakit dalam hatiku yang menjalar. ah, langsung saja kutuliskan kembali poesan itu untukmu yang dirundung masalah:</p>
<p style="text-align: center;">Wahai orang yang bersedih, ketahuilah bahwa kesedihan itu ada jalan keluarnya</p>
<p style="text-align: center;">Bergembiralah dengan kebaikan, karena yang memberi jalan keluar adalah Allah</p>
<p style="text-align: center;">Putus asa terkadang membunuh pemiliknya</p>
<p style="text-align: center;">Jangan sekali – kali berputus asa, karena yang mencukupi adalah Allah</p>
<p style="text-align: center;">Allah menjadikan kemudahan setelah kesulitan</p>
<p style="text-align: center;">Jangan sekali – kali berkeluh kesah, karena yang menjadikannya adalah Allah</p>
<p style="text-align: center;">Jika engkau diuji, yakinlah kepada Allah dan ridholah kepada-Nya. sesungguhnya yang menghilangkan ujian hanyalah Allah</p>
<p style="text-align: center;">Dami Allah, tiada seorang pun yang menolongmu selain-Nya</p>
<p style="text-align: center;">Oleh Karena itu, cukuplah Allah bagimu dalam setiap keadaan.</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">(anggota formasi yang sering sakit)</p>
</div>
</div>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=103&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/sebuah-renungan-saat-kemalangand-atang-menerjangmu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Bersemangat dan Berpikir Positif</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/cara-bersemangat-dan-berpikir-positif.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/cara-bersemangat-dan-berpikir-positif.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 07:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thaushiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/tips/cara-bersemangat-dan-berpikir-positif.html</guid>
		<description><![CDATA[untuk dapat kembali semangat dan berpikir positif coba lakukan langkah-langkah berikut ini :1.	“Bakar” Perahu Anda. 
Kiat ini sebetulnya diinspirasi dari kisah Thoriq bin Ziyad, salah seorang pahlawan Islam. Setelah beliau menyeberangi selat Gibraltar bersama pasukannya untuk menyerang kekaisaran Romawi, beliau baru tahu bahwa pasukan lawan yang akan di hadapannya jumlahnya lebih besar dan persenjataannya lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>untuk dapat kembali semangat dan berpikir positif coba lakukan langkah-langkah berikut ini :<strong>1.	“Bakar” Perahu Anda. </strong></p>
<p>Kiat ini sebetulnya diinspirasi dari kisah Thoriq bin Ziyad, salah seorang pahlawan Islam. Setelah beliau menyeberangi selat Gibraltar bersama pasukannya untuk menyerang kekaisaran Romawi, beliau baru tahu bahwa pasukan lawan yang akan di hadapannya jumlahnya lebih besar dan persenjataannya lebih canggih. Lalu apa yang beliau lakukan waktu itu? Ada dua pilihan, mundur atau tetap maju menyerang. Beliau memilih untuk tetap pada rencana awal yaitutu menyerang. Untuk memperteguh tekadnya, beliau lalu membakar perahu-perahu pasukannya sendiri, sehingga tidak bisa pulang kecuali setelah mengalahkan pasukan lawan. Tindakar membakar perahu merupakan kiat beliau agar tidak tergoda dengan ada pihan lain kecuali menyerang.</p>
<p>Kiat ini dapat digunakan oleh kita untuk konsisten terhadap rencana yang telah dibuat. Buat rencana dan yakini bahwa hanya satu pilihan untuk bertindak, yaitu melaksanakan rencana. Seringkali kita gagal melaksanakan rencana karena tergoda dengan pilihan-pilihan lain yang biasanya lebih enak dan ringan.</p>
<p>Oleh karena itu “bakar” pilihan-pilihan itu di dalam benak Anda. Bahkan dalam hal tertentu kita dapat “membakar” pilihan-pilihan lain tersebut bukan saja di dalam benak kita, akan tetapi dalam realita. Misalnya, agar tidak malas belajar, pindahkan televisi atau komputer internet dari tempat yang mudah kita akses (misalnya dari ruang keluarga ke kamar ortu), sehingga kita tidak tergoda untuk dengan mudah menonton televisi atau bermain komputer. Contoh lain, agar kita tidak keluyuran setelah pulang kuliah, bawa uang pas-pasan saja hanya untuk pulang, sehingga tidak bisa lagi keluyuran yang memakan biaya lebih. Ada seorang sahabat Rasulullah saw yang pernah tergoda dengan keindahan kebunnya, sehingga terlambat sholat Ashar berjamaah di masjid. Apa yang dilakukannya agar tidak mengulangi kesalahannya? Ia menginfakkan kebunnya agar ia tidak punya pilihan lain kecuali sholat Ashar pada waktunya.</p>
<p><strong>2.	Pasang Alarm Secara Rutin</strong></p>
<p>Kiat kedua yang bisa dilakukan adalah memasang alarm secara rutin dari HP/jam kita. Pasang alarm pada saat Anda memang sudah waktunya untuk melaksanakan rencana Anda (secara harian atau mingguan). Agar Anda tidak “kebal” terhadap bunyi alarm, maka ubah bunyi alarmnya pada saat-saat tertentu. Jika Anda sudah konsisiten dan terbiasa melaksanakan rencana/tugas pada waktunya, bunyi alarm tersebut bisa saja dimatikan. Digantikan dengan bunyi “alarm” dalam pikiran Anda.</p>
<p><strong>3.	Yakini bahwa Anda Sudah Terlambat.</strong></p>
<p>Yakini bahwa Anda sudah terlambat. Kalau perlu dramatisir bahwa Anda bukan hanya terlambat dibandingkan dengan teman-teman seangkatan Anda, tapi sudah terlambat dibandingkan dengan orang-orang seangkatan Anda di seluruh kota, bahkan di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Meyakini bahwa kita sudah terlambat mengambil analogi dari sirkut balap mobil. Seorang pembalap yang tertinggal akan lebih sungguh-sungguh dan bersemangat untuk mengejar ketertinggalannya. Begitu pun Anda, jika yakin sudah terlambat dibandingkan dengan orang lain, pasti kita tidak punya waktu untuk bermalas-malasan dan menunda-nunda rencana kita. Apalagi kalau benar-benar sudah terlambat, maka tak ada kesempatan lagi untuk bermalas-malasan agar lebih tidak terlambat lagi.</p>
<p><strong>4.	Dramatisir Dampak Buruk Yang Akan Terjadi.</strong></p>
<p>Cara lain untuk membangkitkan semangat bertindak adalah mendramatisir dampak buruk yang akan terjadi. Dalam kasus Anda, jika Anda tergoda untuk menelantarkan tugas-tugas kuliah, bayangkan dampak buruknya berupa tertinggal, bahkan DO (drop out) dari kuliah. Jika DO maka sulit cari kerja. Jika sulit cari kerja maka sulit mempunyai uang, sedangkan bapak/ibu Anda mungkin pada saat itu sudah meninggal. Akhirnya, hidup kita terlunta-lunta bahkan jadi pengemis. Bayangkan dampak negatifnya secara kausalitas (hukum sebab dan akibat). Hukum kausalitas adalah hukum alam/Allah yang pasti dan rasional dan mungkin saja terjadi pada diri kita jika kita mengabaikan kesungguhan kerja.</p>
<p>Demikian saran saya agar Anda kembali bersemangat untuk melaksanakan rencana hidup Anda, khususnya menyelesaikan kuliah Anda.</p>
<p>Salam Berkah!</p>
<p>(<strong>Satria Hadi Lubis</strong>)<br />
Mentor Kehidupan</p>
<p>dikutip dari situ era muslim ( http://www.eramuslim.com/konsultasi/motivasi/bagaimana-cara-supaya-bisa-berpikir-positif-dan-bersemangat.htm )</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=34&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/thaushiah/cara-bersemangat-dan-berpikir-positif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
