<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Formasi FIB UI &#187; Tazkiyatun Nafsi</title>
	<atom:link href="http://formasi-fib-ui.org/blog/category/tazkiyatun-nafsi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://formasi-fib-ui.org/blog</link>
	<description>Forum Amal dan Studi Islam FIB UI</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 Dec 2011 10:53:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Tuntunan Bertaubat kepada Allah SWT</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/tazkiyatun-nafsi/tuntunan-bertaubat-kepada-allah-swt.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/tazkiyatun-nafsi/tuntunan-bertaubat-kepada-allah-swt.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 04:34:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafsi]]></category>
		<category><![CDATA[taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=479</guid>
		<description><![CDATA[oleh Dr. Yusuf al Qaradhawi Penjelasan Tentang Unsur-unsur yang Menciptakan Hakikat Taubat Dari penuturan Al Gazhali dan ulama lainnya dapat ditarik pengertian: bahwa hakikat taubat yang diperintahkan Allah SWT bagi...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Dr. Yusuf al Qaradhawi</p>
<h3>Penjelasan Tentang Unsur-unsur yang Menciptakan Hakikat          Taubat</h3>
<p>Dari penuturan Al Gazhali dan ulama lainnya dapat ditarik          pengertian: bahwa hakikat taubat yang diperintahkan Allah          SWT bagi seluruh kaum mu&#8217;minin agar mereka beruntung, serta          memerintahkan agar mereka bertaubat dengan taubat nasuha,          terdiri dari beberapa unsur dan faktor yang tiga itu:          tersusun secara berurutan satu sama lain. Seperti dijelaskan          oleh Al Ghazali.</p>
<h4><a name="1"></a>1. Unsur pengetahuan dalam taubat</h4>
<p>Unsur atau faktor pertama dari unsur-unsur itu adalah          unsur pengetahuan. Yang tampak dalam pengetahuan manusia          akan kesalahannya dan dosanya ketika ia melakukan          kemaksiatan kepada Rabbnya, serta matanya terbuka sehingga          ia dapat melihat kesalahannya itu, melepaskan sumbatan dari          telinganya sehingga ia dapat mendengar, dan mengusir          kegelapan dari akalnya sehingga ia dapat berpikir, dalam          setiap kesempatan kembalinya diri kepada fithrahnya. Saat          itu ia akan mengetahui keagungan Rabbnya, kemuliaan          maqam-Nya dan kebesaran hak-Nya. Juga mengetahui kekurangan          dirinya, mengapa ia mengikuti syaitan, serta kerugiannya          yang jelas di dunia dan akhirat jika ia terus berjalan          mengikuti perilaku Iblis dan tentaranya.</p>
<p>Saat itu, manusia butuh untuk memusatkan pikirannya,          menggunakan akalnya, serta merenungi dengan dalam tentang          dirinya dan apa yang berada di sekelilingnya, nilai-nilai          yang ia miliki, perjalanan dirinya, akhir perjalanannya          kemana, makna kehidupannya, kematian dan apa setelah          kematiannya, tentang ni&#8217;mat Allah yang demikian besar          baginya, sikapnya terhadap ni&#8217;mat-ni&#8217;mat itu, tentang ni&#8217;mat          Allah yang terus turun kepadanya, dan kejahatan dirinya akan          dilaporkan kepada Allah. Allah SWT akan menghidupkan          cintanya dengan memberikan ni&#8217;mat kepadaanya walaupun Allah          SWT tidak butuh kepadanya. Ia mendorong kemarahan Allah          dengan melakukan maksiat, sedangkan ia adalah orang yang          amat membutuhkan Allah, dan Allah tidak menutup pintu-Nya          bagi hamba-hambaNya, meskipun mereka telah melampaui batas          terhdap diri mereka sendiri, dan Allah terus memanggil          mereka:</p>
<blockquote><p>&#8220;Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.             Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya&#8221;. (QS.             az-Zumar: 53)</p></blockquote>
<p>Kesadaran jiwa adalah pangkal pertama bagi bangunan          taubat. Dialah yang akan mendorong hati untuk menyesal,          kemudian bertekad untuk meninggalkan dosa itu, lidahnya          beristihgfar, kemudian tubuhnya mencegah dari melakukan dosa          itu.</p>
<p>Inilah yang diperingatkan oleh Al Quran dalam firman          Allah SWT:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan orang -orang yang telah diberi ilmu,             meyakini bahwasanya Al Qur&#8217;an itulah yang hak dari             Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka             kepadanya&#8221; (QS. al Hajj: 54.). Dengan runtutan ini yang             ditunjukkan oleh hurup sambung &#8220;fa&#8221;.</p></blockquote>
<p>Yang pertama adalah pengetahuan, yang dengannya manusia          mengetahui bahwa kebenaran adalah dari Rabb mereka. Dan itu          akan menyebabkan mereka mengimaninya. Dengan demikian, ilmu          pengetahuan adalah petunjuk dan pemimpin keimanan. Kemudian          keimanan itu akan mengantarkan pada ketundukan dan khusyunya          hati.</p>
<p>Allah SWT berfirman tentang sifat kaum muttaqin:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan             perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat             akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa             mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain             dari pada Allah? &#8211; Dan mereka tidak meneruskan perbuatan             kejinya itu, sedang mereka mengetahui&#8221;. (QS. Ali Imran:             135)</p></blockquote>
<p>Mereka itu menyebut Allah, dan meminta ampunan dari dosa          mereka kepadaNya. Istighfar itu terjadi akibat dzikir atau          mengingat Allah SWT. Dan dzikir di sini adalah suatu macam          pengetahuan. Karena yang dimaksud di sini bukan dzikir          dengan lidah, seperti disangka orang. Namun ia adalah          kebalikan dari lupa dan kealpaan. Dan ia adalah bagian dari          macam-macam pengetahuan. Seperti firman Allah SWT:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa.&#8221;             (QS. al Kahfi: 24)</p></blockquote>
<p>Ilmu pengetahuan dalam Islam didahulukan dari keadaan          jiwa dan perbuatan tubuh. Oleh karena itu, tidak aneh jika          ayat yang pertama diturunkan dalam Al Quran adalah:</p>
<blockquote><p>&#8220;Bacalah dengan nama Tuhan-mu yang telah             menciptakan.&#8221; (QS. al &#8216;Alaq: 1)</p></blockquote>
<p>dan membaca adalah kunci ilmu pengetahuan.</p>
<p>Imam Al Bukhari berkata dalam shahihnya: bab: &#8220;Ilmu          sebelum beramal&#8221;. Ia berdalil dengan firman Allah SWT:</p>
<blockquote><p>&#8220;Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada             Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan             bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu&#8217;min, laki-laki             dan perempuan&#8221;. (QS. Muhammad: 19)</p></blockquote>
<p>Maka di sini didahulukan perintah untuk berilmu dari          perintah untuk beristighfar.</p>
<p>Al Qusyairi berkata dalam kitabnya &#8220;Risalah Qusyairiah&#8221;:          taubat yang pertama adalah: bangunnya hati dari kelalaian,          serta sang hamba melihat kondisi yang buruk akibat dosa yang          ia poerbuat. Dan itu akan mendorongnya untuk mengikuti          dorongan hati nuraninya agar tidak melanggar perintah Allah          SWT. Karena dalam khabar disebutkan: &#8220;penasehat dari Allah          SWT terdapat dalam hati setiap orang muslim&#8221;. (Hadits          diriwayatkan oleh Ahmad dari An Nuwas bin Sam&#8217;an). Dan dalam          khabar:</p>
<blockquote><p>&#8220;Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal             daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika             ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, ketahuilah itulah             hati&#8221;. (Hadits muttafaq alaih dari Nu&#8217;man bin Basyir).</p></blockquote>
<p>Jika hatinya merenungkan keburukan perbuatannya, serta ia          menyadari dosa-dosa yang ia perbuat itu, niscaya daam          hatinya akan terdetik keinginan untuk bertaubat, dana          menjauhkan diri dari melakukan tindakan-tindakan yang buruk          itu. Kemudian Allah SWT akan membantunya dengan menguatkan          tekadnya itu, melakukan tindakan koreksional atas          dosa-dosanya, serta melakukan perbuatan-perbuatan yang          seharusnya dalam bertaubat. (Risalah Qusyairiah dengan          tahqiq Dr. Abdul Halim Mahmud, dan Dr. Mahmud bin Syarif,          (juz 1/ 254, 255))</p>
<h4><a name="2"></a>2. Unsur Hati dan Keinginan</h4>
<p>Unsur kedua dalam taubat adalah: unsur jiwa, yang          berhubungan dengan hati dan keinginan diri. Atau dengna kata          lain: emosi dan inklinasi.</p>
<p>Dari unsur ini ada yang berhubungan dengan masa lalu, dan          ada yang berhubungan dengan masa depan.</p>
<h4><a name="2a"></a>a. Menyesal dengan sangat</h4>
<p>Yang berkaitan dengan masa lalu adalah apa ang kita kenal          dengan penyesalan. Tentang ini terdapat hadits: &#8220;penyesalan          adalah taubat&#8221;. Karena ia adalah bagian yang paling penting          dari taubat. Seperti dalam hadits &#8220;Hajji adalah Arafah&#8221;.          Karena ia adalah rukun yang paling penting dalam hajji itu.          al Qusyairi mengutip dari beberapa ulama: penyesalan itu          cukup untuk mewujudkan taubat. Karena penyesalan itu akan          menghantarkan kepada dua rukun lainnya, yaitu tekad dan          meninggalkan perbuatan dosa. Adalah mustahil jika ada          seseorang yang menyesali tindakan yang masih terus ia          lakukan atau ingin ia lakukan kembali.</p>
<p>Penyesalan adalah: perasaan, emosi atau gerak hati. Yaitu          suatu bentuk penyesalan dalam diri manusia atas perbuatan          dosa yang ia lakukan terhadap Rabbnya, terhadap makhluk yang          lain dan bagi dirinya sendiri. Ini adalah penyeslan yang          mirip dengan api yang membakar hati dengan sangat. Malah ia          akan merasakannya seperti dipanggang ketika ia mengingat          dosanya, sikap pelanggarannya serta hak Rabbnya atasnya. Itu          adalah kondisi &#8220;terbakar di dalam&#8221; yang diungkapkan oleh          sebagian kaum sufi ketika mereka mendefinisikan taubat:          melelehkan lemak (yang terkumpul) karena kesalahan masa          lalu. Dan yang lain berkata: ia adalah api hati yang          membakar, serta sakit dalam hati yang tidak terobati!.</p>
<p>Al Quran telah mendeskripsikan sisi jiwa ini bagi          beberapa orang yang melakukan taubat, dengan deskripsi yang          amat bagus. Yaitu dalam kisah tiga sahabat yang absen dari          mengikuti perang yang besar bersama Rasulullah Saw, yaitu          perang Tabuk. Yang merupakan peperangan pertama Rasulullah          Saw dengan negara yagn paling kuat di dunia saat itu: negara          Romawi. Mereka tidak mengungkapkan alasan bohong seperti          kaum munafik, maka Rasulullah Saw memerintahkan untuk          mengucilkan mereka. Kemudian mereka menyesali perbuatan          mereka itu dengan sangat, dan dilukiskan oleh Al Quran          sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan             (penerimaan taubat ) mereka, hingga apabila bumi telah             menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan             jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka,             serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari             dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian             Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam             taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima             taubat lagi Maha Penyayang&#8221;. (QS. at-Taubah: 118)</p></blockquote>
<p>Oleh karena itu Dzun-Nun al Mishri berkata: hakikat          taubat adalah: engkau merasakan bumi yuang luas ini menjadi          sempit karena dosamu, hingga engkau tidak dapat lari          darinya, kemudian kesempitan itu engkau rasakan dalam          dirimu. Seperti diungkapkan oleh al Quran: &#8220;dan jiwa          merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka&#8221;.</p>
<p>Di antara bentuk penyesalan adalah: mengakui dosa, dan          tidak lari dari pertanggungjawaban dosa itu, serta meminta          ampunan dan maghfirah dari Allah SWT.</p>
<p>Seperti kita temukan dalam kisah Adam setelah beliau dan          istirnya memakan pohon yang dilarang itu:</p>
<blockquote><p>&#8220;Keduanya berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, kami telah             menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak             mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya             pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi&#8221;. (QS. al             A&#8217;raf: 23)</p></blockquote>
<p>Dan seperti kita temukan dalam kisah Nuh ketika ia          meminta ampunan kepada Rabbnya atas anaknya yang kafir. Dan          jawaban Ilahi terhadapnya adalah:</p>
<blockquote><p>&#8220;Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk             keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan),             sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik.             Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang             kamu tidak mengetahui (hakekat) nya. Sesungguhnya Aku             memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk             orang-orang yang tidak berpengetahuan&#8221;. (QS. Huud: 46)</p></blockquote>
<p>Di sini Nuh a.s. merasakan kesalahannya, dan iapun          menyesalinya. Serta berkata:</p>
<blockquote><p>&#8220;Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada             Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada             mengetahui (hakekatnya) . Dan sekiranya Engkau tidak             memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan             kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang             merugi&#8221;. (QS. Huud: 47)</p></blockquote>
<p>Dan seperti kita lihat dalam kisah Musa, ketika beliau          memukul seorang laki-laki dari Koptik dan menewaskannya:</p>
<blockquote><p>Musa berkata: &#8216;Ini adalah perbuatan syaitan             sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan             lagi nyata (pemusuhannya)&#8217;. (QS. al Qashash: 15-16)</p></blockquote>
<p>Juga kita lihat dalam kisah nabi Yunus:</p>
<blockquote><p>&#8220;Ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia             menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya             (menyulitkannya), maka dia menyeru dalam keadaan yang             sangat gelap: &#8220;Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak             disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya             aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.&#8221; (QS. al             Anbiyaa: 87)</p></blockquote>
<p>Meskipun jika kita perhatikan dosa-dosa yang diperbuat          oleh para Rasul itu adalah dosa-dosa kecil, terutama jika          kita perhatikan situasi dan kondisi terjadinya dosa itu,          maka dosa-dosa itu memang ringan. Namun para Rasul itu,          karena halusnya perasaan mereka, hati mereka yang hidup,          serta perasaan mereka yang kuat akan hak Rabb mereka, maka          mereka melihat dosa itu sebagai dosa yang amat besar, mereka          mengakui kesalahan diri mereka, dan merekapun segera memohon          ampunan dan maghfirah dari Rabb mereka, karena Dia adalah          Maha Pengampun dan Maha Penyayang.<a href="http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/tuntunan-bertaubat-kepada-allah-swt.html/attachment/sujud" rel="attachment wp-att-502"><img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/05/sujud-150x150.jpg" alt="" title="sujud" width="150" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-502" /></a></p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=479&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/tazkiyatun-nafsi/tuntunan-bertaubat-kepada-allah-swt.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dengki Penghancur Kebaikan</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/tazkiyatun-nafsi/dengki-penghancur-kebaikan.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/tazkiyatun-nafsi/dengki-penghancur-kebaikan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 12:14:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[17/4/2007 &#124; 00 Rabiuts Tsani 1428 H &#124; Hits: 4.844 Oleh: Tim dakwatuna.com Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.”...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>17/4/2007 | 00 Rabiuts Tsani 1428 H | Hits: 4.844</p>
<p>Oleh: <a title="Profil dari Tim dakwatuna.com" href="http://www.dakwatuna.com/author/admin/">Tim dakwatuna.com</a></p>
<hr size="1" noshade="noshade" />
<p align="right"><a title="Kirim" href="http://www.dakwatuna.com/2007/dengki-penghancur-kebaikan/email/"></a><a title="Print" href="http://www.dakwatuna.com/2007/dengki-penghancur-kebaikan/print/"></a></p>
<p>Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (Abu Daud).</p>
<p>Dengki (hasad), kata Imam Al-Ghazali, adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Dengki dapat merayapi hati orang yang merasa kalah wibawa, kalah popularitas, kalah pengaruh, atau kalah pengikut. Yang didengki tentulah pihak yang dianggapnya lebih dalam hal wibawa, popularitas, pengaruh, dan jumlah pengikut. Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau lebih lemah. Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Kullu dzi ni’matin mahsuudun.” (Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki).</p>
<p>Hadits itu menegaskan kepada kita bahwa dengki itu merugikan. Yang dirugikan bukanlah orang yang didengki, melainkan si pendengki itu sendiri. Di antara makna memakan kebaikan, seperti yang disebutkan dalam hadits di atas, dijelaskan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, “Memusnahkan dan menghilangkan (nilai) ketaatan pendengki sebagaimana api membakar kayu bakar. Sebab kedengkian akan mengantarkan pengidapnya menggunjing orang yang didengki dan perbuatan buruk lainnya. Maka berpindahlah kebaikan si pendengki itu pada kehormatan orang yang didengki. Maka bertambahlah pada orang yang didengki kenikmatan demi kenikmatan sedangkan si pendengki bertambah kerugian demi kerugian. Sebagaimana yang Allah firmankan, “Ia merugi dunia dan akhirat.” (‘Aunul Ma’bud juz 13:168)</p>
<p>Hilangnya pahala itu hanyalah salah satu bentuk kerugian pendengki. Masih banyak kebaikan-kebaikan atau peluang-peluang kebaikan yang akan hilang dari pendengki, antara lain:</p>
<p>Pertama, mengalami kekalahan dalam perjuangan. Orang yang dengki perilakunya sering tidak terkendali. Dia bisa terjebak dalam tindakan merusak nama baik, mendiskreditkan, dan menghinakan orang yang didengkinya. Dengan cara itu ia membayangkan akan merusak citra, kredibilitas, dan daya tarik orang yang didengkinya. Dan sebaliknya, mengangkat citra, nama baik dan kredibilitas pihaknya. Namun kehendak Allah tidaklah demikian. Rasulullah saw. bersabda:</p>
<p>Dari Jabir dan Abu Ayyub Al-Anshari, mereka mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang pun yang menghinakan seorang muslim di satu tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menghinakan orang (yang menghina) itu di tempat yang ia inginkan pertolongan-Nya. Dan tidak seorang pun yang membela seorang muslim di tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan membela orang (yang membela) itu di tempat yang ia menginginkan pembelaan-Nya.” (Ahmad, Abu Dawud, Ath-Thabrani)</p>
<p>Kedua, meruntuhkan kredibilitas. Ketika seseorang melampiaskan kebencian dan kedengkian dengan melakukan propaganda busuk, hasutan, dan demarketing kepada pihak lain, jangan berangan bahwa semua orang akan terpengaruh olehnya. Yang terpengaruh hanyalah orang-orang yang tidak membuka mata terhadap realitas, tidak dapat berpikir objektif, atau memang sudah “satu frekuensi” dengan si pendengki. Akan tetapi banyak pula yang mencoba melakukan tabayyun, cari informasi pembanding, dan berusaha berpikir objektif. Nah, semakin hebat gempuran kedengkian dan kebencian itu, bagi orang yang berpikir objektif justru akan semakin tahu kebusukan hati si pendengki. Orang yang memiliki hati nurani ternyata tidak senang dengan fitnah, isu murahan, atau intrik-intrik pecundang. Di mata mereka orang-orang yang bermental kerdil itu tidaklah simpatik dan tidak mengundang keberpihakan.</p>
<p>Orang yang banyak melakukan provokasi dan hanya bisa menjelek-jelekkan pihak lain juga akan terlihat di mata orang banyak sebagai orang yang tidak punya program dalam hidupnya. Dia tampil sebagai orang yang tidak dapat menampilkan sesuatu yang positif untuk “dijual”. Maka jalan pintasnya adalah mengorek-ngorek apa yang ia anggap sebagai kesalahan. Bahkan sesuatu yang baik di mata pendengki bisa disulap menjadi keburukan. Nah, mana ada orang yang sehat akalnya suka cara-cara seperti itu?</p>
<p>Ketiga, mencukur gundul agama. Rasulullah saw. bersabda, “Menjalar kepada kalian penyakit umat-umat (terdahulu): kedengkian dan kebencian. Itulah penyakit yang akan mencukur gundul. Aku tidak mengatakan bahwa penyakit itu mencukur rambut, melainkan mencukur agama.” (At-Tirmidzi)</p>
<p>Islam adalah rahmat bagi sekalian alam. Akan tetapi Islam yang dibawa oleh orang yang di dadanya memendam kedengkian tidak akan dapat dirasakan rahmatnya oleh orang lain. Bahkan pendengki itu tidak mampu untuk sekadar menyungging senyum, mengucapkan kata ‘selamat’, atau melambaikan tangan bagi saudaranya yang mendapat sukses, baik dalam urusan dunia maupun terkait dengan sukses dalam perjuangan. Apatah lagi untuk membantu dan mendukung saudaranya yang mendapat sukses itu. Dengan demikian Islam yang dibawanya tidak produktif dengan kebaikan alias gundul.</p>
<p>Keempat, menyerupai orang munafik. Perilaku dan sikap pendengki mirip perilaku orang-orang munafik. Di antara perilaku orang munafik adalah selalu mencerca dan mencaci apa yang dilakukan oran lain terutama yang didengkinya. Jangankan yang tampak buruk, yang nyata-nyata baik pun akan dikecam dan dianggap buruk. Allah swt. menggambarkan perilaku itu sebagai perilaku orang munafik. Abi Mas’ud Al-Anshari –semoga Allah meridhainya– mengatakan, saat turun ayat tentang infaq para sahabat mulai memberikan infaq. Ketika ada orang muslim yang memberi infaq dalam jumlah besar, orang-orang munafik mengatakan bahwa dia riya. Dan ketika ada orang muslim yang berinfak dalam jumlah kecil, mereka mengatakan bahwa Allah tidak butuh dengan infak yang kecil itu. Maka turunlah ayat 79 At-Taubah. (Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Benarlah ungkapan seorang ulama salaf: “Al-hasuudu laa yasuud (pendengki tidak akan pernah sukses).” (Kasyful-Khafa 1:430).</p>
<p>Kelima, tidak mampu memperbaiki diri sendiri. Orang yang dengki, manakala mengalami kekalahan dan kegagalan dalam perjuangan cenderung mencari-cari kambing hitam. Ia menuduh pihak luar sebagai biang kegagalan dan bukannya melakukan muhasabah (introspeksi). Semakin larut dalam mencari-cari kesalahan pihak lain akan semakin habis waktunya dan semakin terkuras potensinya hingga tak mampu memperbaiki diri. Dan tentu saja sikap ini hanya akan menambah keterpurukan dan sama sekali tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun untuk mewujudkan kemenangan yang didambakannya.</p>
<p>Keenam, membuat gelap mata dan tidak dapat melihat kebenaran. Dengki membuat pengidapnya tidak dapat melihat kelemahan dan kekurangan diri sendiri; dan tidak dapat melihat kelebihan pada pihak lain. Akibatnya, jalan kebenaran yang terang benderang menjadi kelam tertutup mega kedengkian. Apa pun yang dikatakan, apa pun yang dilakukan, dan apa pun yang datang dari orang yang dibenci dan didengkinya adalah salah dan tidak baik. Akhirnya, dia tidak dapat melaksanakan perintah Allah swt. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, “Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang mempunyai akal.” (Az-Zumar:18)</p>
<p>Ketujuh, membebani diri sendiri. Orang yang membiarkan dirinya dikuasai oleh iri dengki hidupnya menanggung beban berat yang tidak seharusnya ada. Bayangkan, setiap melihat orang lain yang didengkinya dengan segala kesuksesannya, mukanya akan menjadi tertekuk, lidahnya mengeluarkan sumpah serapah, bibirnya berat untuk tersenyum, dan yang lebih bahaya hatinya semakin penuh dengan dengki, marah, benci, curiga, kesal, kecewa, resah, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Enakkah kehidupan yang penuh dengan perasaan itu? Tentu saja menyesakkan. Dalam bahasa Al-Qur’an, bumi yang luas ini dirasakan sumpek. Seperti layaknya penyakit, ketika dipelihara akan mendatangkan penyakit lainnya. Demikian pula penyakit hati yang bernama iri dengki. Bila dia tidak dihilangkan akan mengundang penyakit-penyakit lainnya. Maha Benar Allah yang telah berfirman, “Di dalam hati mereka ada penyakit maka Allah tambahkan kepada mereka penyakit (lainnya).” (Al-Baqarah: 10)</p>
<p>Betapa sulitnya kita menghimpun kebaikan dan meraih kemenangan. Maka janganlah diperparah dan dipersulit dengan membiarkan dengki menguasai hati kita. Mari berlomba dalam kebaikan. Allahu a’lam.</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=252&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/tazkiyatun-nafsi/dengki-penghancur-kebaikan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah renungan saat kemalangan datang menerjangmu</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/sebuah-renungan-saat-kemalangand-atang-menerjangmu.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/sebuah-renungan-saat-kemalangand-atang-menerjangmu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 07:26:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[NAKSI (Nasihat Kebaikan Formasi)]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[saat terbaring karena sakit, aku menemukan penggalan pesan Hamd bin Abdullah Ad dusari dalam bukunya Ash Shihah wal Maradh yang tergeletak dalam lemari buku. iseng – iseng kubaca buku itu,...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p style="text-align: left;">saat terbaring karena sakit, aku menemukan penggalan pesan <strong>Hamd bin Abdullah Ad dusari</strong> dalam bukunya <em>Ash Shihah wal Maradh</em> yang tergeletak dalam lemari buku. iseng – iseng kubaca buku itu, ternyata aku menemukan pesan itu, pesan yang dengan sekejap bisa mengobati rasa sakit dalam hatiku yang menjalar. ah, langsung saja kutuliskan kembali poesan itu untukmu yang dirundung masalah:</p>
<p style="text-align: center;">Wahai orang yang bersedih, ketahuilah bahwa kesedihan itu ada jalan keluarnya</p>
<p style="text-align: center;">Bergembiralah dengan kebaikan, karena yang memberi jalan keluar adalah Allah</p>
<p style="text-align: center;">Putus asa terkadang membunuh pemiliknya</p>
<p style="text-align: center;">Jangan sekali – kali berputus asa, karena yang mencukupi adalah Allah</p>
<p style="text-align: center;">Allah menjadikan kemudahan setelah kesulitan</p>
<p style="text-align: center;">Jangan sekali – kali berkeluh kesah, karena yang menjadikannya adalah Allah</p>
<p style="text-align: center;">Jika engkau diuji, yakinlah kepada Allah dan ridholah kepada-Nya. sesungguhnya yang menghilangkan ujian hanyalah Allah</p>
<p style="text-align: center;">Dami Allah, tiada seorang pun yang menolongmu selain-Nya</p>
<p style="text-align: center;">Oleh Karena itu, cukuplah Allah bagimu dalam setiap keadaan.</p>
<p style="text-align: center;">
</div>
</div>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=103&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/sebuah-renungan-saat-kemalangand-atang-menerjangmu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Kekecewaan Melanda</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/tazkiyatun-nafsi/saat-kekecewaan-melanda.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/tazkiyatun-nafsi/saat-kekecewaan-melanda.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 12:58:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/tips/saat-kekecewaan-melanda.html</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu, Dini sudah bersiap – siap untuk ke sekolah. Maklum hari ini adalah hari pengumuman kelulusan yang dinanti – nantinya. Langkahnya bersemangat untuk menyongsong kelulusan. Ia yakin kalau hasil...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi itu, Dini sudah bersiap – siap untuk ke sekolah. Maklum hari ini adalah hari pengumuman kelulusan yang dinanti – nantinya. Langkahnya bersemangat untuk menyongsong kelulusan. Ia yakin kalau hasil pengumuman menyatakan dirinya adalah siswi yang dinyatakan lulus.<br />
Hatinya berdebar – debar menatap amplop putih hasil pengumuman. Tangannya bergetar menyobek amplop itu dan mengambil secarik kertas di dalamnya. Dengan teliti dia membaca pengumuman itu sampai matanya terhenti pada sepuluh huruf yang tercetak tebal. Langit hatinya runtuh membaca sepuluh huruf itu, ia tak percaya dan mengulang kembali membaca “TIDAK LULUS”. Ia kecewa berat, ia tak kuasa menahan tangisnya hingga ia pingsan.<br />
Semua orang pasti pernah mengalami kekecewaan. Tapi, apakah hal itu bisa membuat seseorang kapok atau bahkan frustasi.<br />
Kekecewaan datang karena adanya ketidaksesuaian antara harapan atau keinginan dengan kenyataan. Hal ini bisa dialami siapa saja, kapan saja, di mana saja, sehingga terkadang seseorang tidak siap menghadapinya.<br />
Dan itu dapat menyebabkan kesedihan, kemurungan, kapok bahkan frustasi. Kekecewaan yang sampai frustasi biasanya muncul karena seseorang terlalu memupuk harapan yang begitu tinggi pada suatu hal, sehingga ketika harapan itu tidak tercapai atau gagal, ia seperti terbanting dan terjatuh dari lantai lima puluh.<br />
<img src="http://www.tigaserangkai.com/modules/store/images/thumbs/721101-004_JGN_MENANGIS.jpg" alt="" width="271" height="400" /></p>
<p>Memang susah untuk menata hati saat kecewa melanda. Akan tetapi kawan, kita tidak hidup di masa lalu atau hari ini saja, masih ada hari depan, masih ada harapan.</p>
<p>Berikut ini adalah tips sederhana yang bisa kita ambil:</p>
<p><strong>Husnudzon pada Allah</strong><br />
Sebagai seorang yang beriman, kita harus tetap berhusnudzon pada Allah. Mungkin kegagalan adalah takdir yang telah ditetapkan olehNya, agar kita semakin dewasa dan memperbaiki diri untuk bisa lebih baik lagi.<br />
Sikap sorang mukmin itu memang sungguh ajaib seperti hadis nabi yang mengatakan &#8221;Sungguh unik perkara orang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah baik. Jika ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur dan jika ia mendapat ujian ia bersabar, maka (hal itu) merupakan kebaikan baginya.&#8221; (HR.Muslim)<br />
<strong>Realistislah</strong><br />
Berpikir realistislah, apakah kita sudah berusaha dan bekerja keras. Dengan berpikiran realistis kita juga mampu menerima kegagalan atau keberhasilan dengan sama baiknya.<br />
<strong>Tawakal</strong><br />
Walaupun kita sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tetap semua kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Mengutip perkataan Dr. Zulkifliemansyah “ada wilayah kekuasaan Illahi, tempat di mana hamba – hambanya yang telah letih berikhtiar untuk bertawakal. Dari situ kita belajar makna hakiki sebuah perjuangan. Yang kata – katanya tersusun dari sebait do’a manis seorang yatim Ummi di gua Tsur ‘La tahzan, Innallaha ma’ana’.”<br />
<strong>Siapkan mental</strong><br />
Siapkan mental kita untuk bias menerima kenyataan buruk yang mungkin bias menerima kita. Jadi dengan menyiapkan mental setidaknya kita tidak terlalu terpukul saat mengalami kegagalan.<br />
<strong>Usaha</strong><br />
Usaha akan membuat rasa kecewa tidak berkepanjangan dan juga menunjukkan seberapa jauh seseorang berjuang untuk tercapainya suatu keinginan atau harapan. Usaha juga yang membedakan siapa yang berjiwa tangguh dengan orang yang berjiwa kerdil.<br />
<strong>Sabar</strong><br />
Segala sesuatu bisa diwujudkan dengan usaha, kerja keras dan tentunya berdo’a. tapi, itu saja tidak cukup. Diperlukan juga kesabaran. Hal inilah yang dilupakan, padahal dengan kesabaran, kegagalan dan kekecewaan akan diterima sebagai mata rantai proses keberhasilan.<br />
<em>So, buat yang lagi pada kecoa, eh maaf kecewa, “ La Tahzan, ayo bangkit lagi”</em></p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=30&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/tazkiyatun-nafsi/saat-kekecewaan-melanda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malam Nauzubillah</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/tazkiyatun-nafsi/malam-nauzubillah.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/tazkiyatun-nafsi/malam-nauzubillah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 10:20:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wahid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafsi]]></category>
		<category><![CDATA[pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/uncategorized/malam-nauzubillah.html</guid>
		<description><![CDATA[Malam iut terasa indah dengan gemerlap lampu yang menyala di sisi jalan yang menerangi jalanku dengan suasana khas jalan ibu kota di malam hari. Malam yang terasa indah itu membuatku...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam iut terasa indah dengan gemerlap lampu yang menyala di sisi jalan yang menerangi jalanku dengan suasana khas jalan ibu kota di malam hari. Malam yang terasa indah itu membuatku merasa tak nyaman!, karena dengannya malam, Ibu kota pun tak luput dari liputan asap-asap knalpot yang tak jarang membuat mataku terasa pedih dan hatiku merasa kesal, kesal yang entah harus ku tujukan kepada siapa??? Mungkin diriku.</p>
<p>Malam memang saat dimana sesuatu yang ada didunia ini terasa lebih indah. Jika tak percaya hal ini maka perhatikan sekitarmu! saat kau bepergian di malam hari. Karena kehebatan malam itulah terkadang beberapa manusia tak sadar bahwa mereka telah memperlihatkan hal indah yang mereka miliki kepada orang lain yang bahkan untuk membayangkannya saja tak pantas. Yang dimaksud disini adalah para gadis-gadis yang bepergian di malam hari dengan busana yang hanya pantas untuk dikenakan dirumah dan hal yang hanya pantas dilihat oleh kerabat dan mahram mereka saja. Tetapi mereka&#8230;</p>
<p><span id="more-4"></span>mengumbarnya dengan seenaknya saja &#8230;</p>
<p>Sebagai seorang manusia yang menghargai gadis-gadis dan kaum wanita. Aku menganggap apa yang mereka lakukan adalah kebodohan yang benar-benar bodoh. Mereka memperlihatkan sesuatu hal yang tak pantas dilihat oleh sembarangan orang selain mahram mereka. Apa yang mereka lakukan bagaikan <em>&#8216;menebarkan uang yang seharusnya mereka gunakan untuk membelikan bahan makanan untuk suami mereka tetapi mereka tebar dengan percuma di jalan-jalan menuju pasar yang tak akan menghasilkan apapun selain &#8216;gumaman&#8217; bahwa orang ini sudah kaya atau mungkin gila!.</em> Saya merasa miris melihat fenomena ini karena saya merasa wanita adalah salah satu anugerah Tuhan yang terindah yang diciptakan untuk menghiasi dunia ini dengan keindahan dan kecantikannya melebihi anugerah yang lain</p>
<p>&#8230;, melebihi gunung-gunung yang menjulang tinggi dengan hamparan pemandangan luas yang membuat dirimu bagaikan penguasa dan pemimpin dunia ini dan semua hal terasa mudah dan kecil bagimu</p>
<p>&#8230;, melebihi laut biru dengan sensasi pemandangan bawah laut yang tak ada di dunia permukaan</p>
<p>&#8230;, melebihi indahnya lembayung senja dan pagi hari yang membuat mu datang lebih dulu untuk melihat indahnya lembayung itu</p>
<p>&#8230;, bahkan mungkin sebagian orang menganggapnya melebihi hidupnya sendiri di dunia ini.</p>
<p>Mereka adalah mahluk Tuhan yang terindah di dunia ini. Yang diciptakan untuk menghiasi dunia ini dan membuat dunia ini terasa lebih indah.</p>
<p>Hidup hanya sementara! jangan pernah menyia-nyiakannya hanya untuk kesenangan dunia dan gengsi semata yang benar-benar membuat mata ini tertutup oleh rasa sombong&#8230;! sombong yang manusia tak pantas untuk hal apapun dan sekecil apapun.</p>
<p>Jika kita sombong akan fisik kita, jika kita sombong akan kemampuan kita, jika kita sombong akan pikiran kita, maka kita sombong pada Pencipta kita.</p>
<p>Semoga pembaca yang diberkahi Allah dan disediakan waktunya untuk membaca tulisan ini segera tergerak untuk mengingatkan kerabat, kenalan, dan sahabat untuk menjauhi hal-hal yang seperti tersinggung di atas.</p>
<p>Karena Keindahan yang dimiliki kaum perempuan bukan jajanan murah yang di gelar di jalan melainkan adalah Anugerah yang diberikan Allah untuk menghiasi bumi dan seluruh isinya termasuk manusia dan khususnya kaum laki-laki.</p>
<p>oleh Nurfiantara, FIB UI</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=4&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/artikel-islam/tazkiyatun-nafsi/malam-nauzubillah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

