<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Formasi FIB UI</title>
	<atom:link href="http://formasi-fib-ui.org/blog/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://formasi-fib-ui.org/blog</link>
	<description>Forum Amal dan Studi Islam FIB UI</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Jun 2010 04:07:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>The Great Events in Formasi FIB UI</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/agenda/the-great-events-in-formasi-fib-ui.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/agenda/the-great-events-in-formasi-fib-ui.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 04:02:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[agenda formasi]]></category>
		<category><![CDATA[GUESS]]></category>
		<category><![CDATA[HI Fest]]></category>
		<category><![CDATA[pmb]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=632</guid>
		<description><![CDATA[PMB
Penyambutan Mahasiswa Baru Formasi merupakan sebuah rangkaian acara awal dalam penyambutan Mahasiswa Baru di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya sebagai perwujudan dari penuansaan persahabat islam dengan para Maba yang bertujuan memberikan rasa aman, nyaman, dan kekeluargaan kepada Maba FIB UI. PMB Formasi 2010 dengan tema &#8216;Ceri&#8217; yang merupakan singkatan dari &#8220;Ceria,
Bersahabat, dan Syar’i”
GUESS
Get the Unforgetable Experience [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>PMB</h1>
<p>Penyambutan Mahasiswa Baru Formasi merupakan sebuah rangkaian acara awal dalam penyambutan Mahasiswa Baru di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya sebagai perwujudan dari penuansaan persahabat islam dengan para Maba yang bertujuan memberikan rasa aman, nyaman, dan kekeluargaan kepada Maba FIB UI. PMB Formasi 2010 dengan tema &#8216;Ceri&#8217; yang merupakan singkatan dari &#8220;Ceria,<br />
Bersahabat, dan Syar’i”</p>
<h1 style="text-align: left;">GUESS</h1>
<p style="text-align: left;"><a rel="attachment wp-att-634" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/agenda/the-great-events-in-formasi-fib-ui.html/attachment/11538_1078099012767_1835028649_171991_6829572_n"><img class="alignleft size-medium wp-image-634" title="11538_1078099012767_1835028649_171991_6829572_n" src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/06/11538_1078099012767_1835028649_171991_6829572_n-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Get the Unforgetable Experience and Islamic Spirit merupakan rangkaian acara untuk menyambut teman-teman Maba dalam rangka mengeratkan ukuwah islamiyah dan mengenalkan indahnya Islam dengan tema &#8220;Proud to be Muslim&#8221;. Kegiatan selama 3 hari 2 malam ini, dirangkai dengan seminar, diskusi, rihlah, motivation training,<br />
mentoring, outbond dan kegiatan seru lainnya. So stay tuned ya..</p>
<p style="text-align: right;">
<h1></h1>
<h1></h1>
<h1>HI Fest</h1>
<p><a rel="attachment wp-att-633" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/agenda/the-great-events-in-formasi-fib-ui.html/attachment/logo-hifest"><img class="alignleft size-medium wp-image-633" title="logo hifest" src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/06/logo-hifest-300x226.jpg" alt="" width="300" height="226" /></a>Humaniora Islamic Festival merupakan sebua acara terbesar dan terdahsyat di awal bulan November. Dengan tema: &#8220;Menyelami Budaya, Mendzikirkan Cakrawala&#8221; Sebuah festival yang akan menampilkan keindahan Islam dari sudut pandang budaya dan seni.<br />
Membuka cakrawala pesona kesucian Islam dengan membahas dan menampilkan Sastra, Film, dan Musik dari sudut pandang Islam. Melalui budaya kita dapat menggemakan ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan, melalui seni tersampaikan nilai islam dengan cara yang unik dan menarik. Terdapat berbagai macam lomba seperti puisi, cerpen, marawis, dan yang pastinya pembicaranya para ahli dalam bidangnya.</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=632&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/agenda/the-great-events-in-formasi-fib-ui.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita di Mata Islam</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/kemuslimahan/wanita-di-mata-islam.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/kemuslimahan/wanita-di-mata-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 08:38:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kemuslimahan]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[

oleh Johan Rio Pamungkas
(Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea, Angkatan 2006)
Pembicaraan tentang perempuan (dalam teks ini dikhususkan pada muslimah) merupakan salah satu topik yang menarik di kalangan perempuan maupun lelaki, baik tua maupun muda. Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa:
“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a rel="attachment wp-att-517" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/kemuslimahan/wanita-di-mata-islam.html/attachment/sky-flower"></a><img class="alignleft size-full wp-image-517" title="sky-flower" src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/05/sky-flower.jpg" alt="" width="230" height="173" /><br />
</strong></p>
<p>oleh Johan Rio Pamungkas</p>
<p>(Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea, Angkatan 2006)</p>
<p>Pembicaraan tentang perempuan (dalam teks ini dikhususkan pada muslimah) merupakan salah satu topik yang menarik di kalangan perempuan maupun lelaki, baik tua maupun muda. <em>Al-Qur’an </em>sendiri menyatakan bahwa:</p>
<p>“<em>Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.</em>”(Q.S. Ali Imran[3]: 14).</p>
<p>Banyak aspek mengenai perempuan yang didiskusikan. Tak sedikit pula pendapat dari para pakar, filosof, pemikir, dan ulama—sejak dulu hingga kini— mengenai mitra kaum Adam ini. Beragam pendapat tersebut tidak jarang bertolak belakang. Bermula dari yang melecehkan dan meminggirkan, sampai yang memberi peranan besar hingga menyebabkan lelaki berjalan sendiri bagai tidak membutuhkan perempuan, maupun sebaliknya. Sikap semacam ini tentu saja tidak dapat dibenarkan, baik oleh agama maupun akal. Hal ini disebabkan perempuan dan laki-laki saling membutuhkan. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“<em>Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”</em>(QS. At Taubah[9]: 71).</p>
<p>Tak dapat dipungkiri bahwa mengabaikan perempuan berarti mengabaikan setengah dari potensi masyarakat, dan meminggirkan perempuan berarti meminggirkan seluruh manusia. Hal ini disebabkan tak seorang manusia pun¾kecuali Adam As. dan Hawa¾yang tidak lahir melalui rahim seorang perempuan.</p>
<p>Tak dapat disangkal pula bahwa terdapat bias terhadap perempuan, yang dilakukan oleh lelaki dan perempuan lainnya. Bahkan para ulama dan cendekiawan, dari masa lalu hingga masa kini. Bias tersebut mengakibatkan peremehan terhadap perempuan karena menyamakan mereka secara penuh dengan lelaki sehingga menjadikan perempuan menyimpang dari kodratnya. Sebaliknya, tidak memberi hak-hak mereka sebagai manusia yang memiliki kodrat dan kehormatan yang dianugerahkan oleh Allah SWT juga merupakan pembiasan.</p>
<p>Oleh sebab itu, marilah kita lihat perspektif ini dengan jujur sehingga tidak ada pembiasan sama sekali, dengan melihatnya melalui perspektif Islam, sesuai dengan firman Allah SWT:</p>
<p>“<em>Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.</em>”( QS.Ali Imran[3]: 1).</p>
<p>Ayat yang luar biasa mulia ini mengisahkan dengan jelas bahwa asal-usul seluruh manusia adalah satu. Seluruh manusia berasal dari satu orang, yaitu nabi Adam As. Dari satu orang ini lalu Allah SWT menciptakan istrinya. Dari sini kita dapat melihat bahwa Islam telah meletakkan permasalahan ini di atas satu prinsip. Wanita dan laki-laki bermula dari asal yang sama dan dari bahan baku yang sama pula.</p>
<p><em>“Sebagian dari kalian merupakan bagian dari yang lain.”</em></p>
<p>Prinsip dalam masalah ini adalah persamaan. Persamaan yang dimaksud lebih kepada persamaan kehadiran, persamaan asal, dan persamaan pencipta. Akan tetapi, terdapat pula perbedaan di antara perempuan dan laki-laki, salah satunya adalah masalah kepemimpinan. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“<em>Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” </em>(QS. An Nisa[4]:34)</p>
<p>Masalah kepemimpinan ini tercakup dalam peran perempuan dan laki-laki di keluarga dan negara. Namun, kita juga dapat menemukan masalah kepemimpinan ini di dalam keseharian, contohnya pada saat salat berjamaah. Jika masih ada lelaki yang akan salat berjamaah, maka lelaki tersebutlah yang harus menjadi imam salat meskipun terdapat ratusan perempuan yang akan salat berjamaah.</p>
<p>Intinya, tulisan ini bermaksud menyatakan bahwa Islam telah menjadikan wanita setara dengan pria dalam hal asal-usul, keberadaan, dan hak-haknya secara umum, serta mengakui adanya hubungan timbal balik antara wanita dengan pria. Islam juga menetapkan aturan-aturan yang harus dilaksanakan oleh wanita di atas suatu asas yang menjaga kehormatan wanita, mengiringi karakter-karakter khusus yang dianugerahkan Allah SWT kepada kaum wanita. Setelah itu, maka kita akan menemukan perpaduan yang sungguh indah, sebuah afirmasi dari Allah SWT yang dijelaskan dalam ayat berikut.</p>
<p>“<em>Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”.</em> (QS. Al Ahzab[33]: 35).</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=516&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/kemuslimahan/wanita-di-mata-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencintai Ilmu Membangun Peradaban</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/ilmy/mencintai-ilmu-membangun-peradaban.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/ilmy/mencintai-ilmu-membangun-peradaban.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 08:28:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh Titin Fatimah
Program Studi Arab 2008
Dept. ‘Ilmy FORMASI FIB UI
 
 
Saya sudah sering bertanya kepada ulama mengapa khotbahnya tidak pernah mendorong umat Muslim untuk menekuni sains dan teknologi—mengingat seperdelapan dari kitab suci membicarakan sains dan teknologi. Kebanyakan menjawab bahwa mereka ingin mengkhotbahkan itu tetapi tidak tahu banyak mengenai sains modern. Mereka hanya mengetahui sains [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><a rel="attachment wp-att-512" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/ilmy/mencintai-ilmu-membangun-peradaban.html/attachment/esfahan_shah_sq"></a><a rel="attachment wp-att-512" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/ilmy/mencintai-ilmu-membangun-peradaban.html/attachment/esfahan_shah_sq"><img class="size-full wp-image-512 aligncenter" title="Esfahan_Shah_Sq" src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/05/Esfahan_Shah_Sq.jpg" alt="" width="461" height="113" /></a></strong></p>
<p style="text-align: center;">Oleh Titin Fatimah</p>
<p style="text-align: center;">Program Studi Arab 2008</p>
<p style="text-align: center;">Dept. ‘Ilmy FORMASI FIB UI</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Saya sudah sering bertanya kepada ulama mengapa khotbahnya tidak pernah mendorong umat Muslim untuk menekuni sains dan teknologi—mengingat seperdelapan dari kitab suci membicarakan sains dan teknologi. Kebanyakan menjawab bahwa mereka ingin mengkhotbahkan itu tetapi tidak tahu banyak mengenai sains modern. Mereka hanya mengetahui sains pada zaman Ibnu Sina.</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Muhammad Abdus Salam, penerima Nobel Fisika, 1979</em></strong></p>
<p>Cinta terhadap Ilmu akan membawa kita—umat islam&#8211; pada satu proses pendewasaan dalam berpikir dan bertindak. Cara berpikir tersebut akan membuat kita sedikit demi sedikit mengasah dan memperuncing <em>curiosity</em> atau rasa keingintahuan kita terhadap apapun. Rasa ingin tahu itu kemudian menjadikan kita bersikap kritis dan menjadi sosok yang selalu curiga akan kebenaran yang tentu saja untuk mencari kebenaran yang sebenarnya. Selain itu pula akan mendorong kita untuk terus belajar demi menemukan kebenaran itu.</p>
<p>Bukti cinta terhadap ilmu tersebut bisa kita temui pada ilmuwan-ilmuwan muslim yang menjadi pemikir dan pelopor hebat di bidang sains modern dan disiplin ilmu lainnya yang penemuan dan teorinya masih digunakan hingga saat ini. Para ilmuwan tersebut—dengan kecerdasan luar biasa yang dikaruniakan Allah—telah membawa mereka pada satu fase dimana mereka harus menjadi manusia yang tinggi derajatnya dengan ilmu pengetahuan. Kemudian lahirlah para pemikir dan pelopor yang sholeh lagi cerdas yang banyak mempelopori penemuan dalam berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan. Para pemikir dan pelopor tersebut yaitu Al-Razi yang merupakan ilmuwan pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan <em>measles</em>. Dia juga ilmuwan pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Ibnu Sina yang dikenal di Eropa dengan nama Avicenna, ilmuwan berbahasa Parsi dari Abad 10 memiliki kontribusi terhadap penelitian alam dan filsafat agama. Dia seorang filosof yang berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Buku yang terkenal dari ilmuwan ini yaitu <em>Qanun fi al-Thibb</em> atau The <em>Canon of Medicine</em> (undang-undang kedokteran) diajarkan kepada calon dokter di berbagai universitas di Perancis dan Italia dari abad ke-12 sampai ke-16. Undang-undang kedokteran tersebut juga merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Ilmuwan dalam bidang optik yaitu Abu Ali al-Hasan Ibn. al-Haythami, yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen, dia terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya yaitu benda-lah yang mengirim cahaya ke mata. Dalam bidang astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe<a href="#_ftn1">[1]</a>. Selain itu adalah al-Fargani, yaitu pakar astronomi yang karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis dan namanya diganti menjadi al-Faragnus. Dalam bidang kimia, terkenal nama Jabir ibn Hayyan yang menemukan bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Dalam bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi yang juga mahir dalam bidang astronomi. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. Kata “aljabar” berasal dari judul bukunya, <em>al-Jabr wa al-Muqoobalah</em>. Dalam bidang sejarah Islam terkenal nama at-Tabari, al-Biruni, dan al-Mas’udi. Al-Mas’udi juga dikenal sebagai ahli dalam ilmu geografi. Diantara karyanya adalah <em>Muruj al-Zabab wa Ma’adin al-Jawahir</em>. Dan masih banyak lagi ilmuwan-ilmuwan muslim dan karyanya yang ikut berkontribusi banyak dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada zamannya yang tidak dapat disebutkan semuanya.</p>
<p>Tentunya ada latar belakang dan motivator yang mendasari ilmuwan-ilmuwan di atas dalam menemukan penemuan-penemuan hebat tersebut. Motivasi besar mereka berawal dari ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dalam dua panduan umat Islam tersebut, yakni Al-Qur’an dan Hadits telah mendorong umat Islam untuk menjunjung ilmu pengetahuan setinggi-tingginya dan menghargai para ‘ulama atau ilmuwan. Motivasi tersebut telah membawa para ilmuwan untuk menguasai ilmu pengetahuan melalui penjelajahan-penjelajahan intelektual ilmiah sehingga memberikan kontribusi untuk peradaban Islam berupa penemuan-penemuan hebat dalam berbagai bidang. Penemuan-penemuan tersebut tidak muncul begitu saja, namun melalui berbagai perjalanan ilmiah berupa penerjemahan buku-buku warisan Yunani misalnya, penelaahan terhadap karya yang sudah terlebih dahulu ada seperti karya-karya dari ilmuwan Yunani, pengujian-pengujian terhadap teori yang ada, pengamatan, dan sebagainya.</p>
<p>Satu bukti kejayaan peradaban Islam yang paling hebat adalah adanya pusat studi Islam dan pembelajaran multidisiplin Ilmu di Baghdad pada kekuasaan Dinasti Abbasiyah  (217H/832M), yaitu <em>Bayt al-Hikmah</em>. <em>Bayt-al-Hikmah </em>awalanya merupakan perpustakaan pribadi Khalifah Harun Al-Rasyid (786-808M), kemudian pada pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun (813-833M) dijadikan <em>center of learning</em> atau pusat pembelajaran. Pembelajaran tersebut berupa penerjemahan karya-karya peninggalan peradaban besar Yunani, Romawi, Mesir dan Persia. Seperti contoh pada zaman khalifah al-Ma’mun, karya-karya Aristoteles diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, sehingga orang-orang Eropa kemudian pada suatu saat tinggal menerjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Proses penerjemahan inilah yang menjadi awal mula munculnya ilmu pengetahuan baru di Arab yang kemudian menyebar hingga ke Barat. Jika saja pada masa kepemimpinan Khalifah al-Ma’mun tidak ada proses penerjemahan karya-karya klasik peradaban sebelumnya, maka sebuah ketidakniscayaan bahwa ilmu pengetahuan tersebut akan sampai ke Barat karena warisan ilmu dari peradaban besar (Yunani, Romawi, Mesir, dan Persia) ketika hancur sama sekali tidak tersentuh oleh pikiran bangsa manapun, kecuali orang-orang Arab dibawah kepemimpinan khalifah yang mencintai dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.</p>
<p>Betapa hebatnya para ilmuwan yang merupakan <em>jebolan</em> Akademi Ilmiah terbaik Bayt al-Hikmah pada masa itu. Mereka berperan dalam membangun peradaban Islam. Mereka—demikian karena amat besar kecintaan mereka terhadap ilmu pengetahuan, terlebih lagi khalifah pada masa itu yang juga memberikan perhatian lebih terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Untuk itu, kita seharusnya semakin menyadari bahwa ilmu pengetahuan merupakan batu loncatan awal kebangkitan peradaban. Kemudian muncul sebuah perasaan sedih ketika masih ditemukan seorang pemimpin yang lebih mementingkan sektor ekonomi ketimbang sektor keilmuwan (pendidikan) yang sudah pasti akan menciptakan manusia-manusia cerdas yang siap membangun peradaban bangsa. Perlu diketahui bahwa peradaban berkolerasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Untuk itu diperlukan sebuah keinginan kuat yang berlandaskan keilmuwan (Qur’an dan Hadits) untuk membangun dan membangkitkan peradaban yang gemilang. <em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p>Referensi :</p>
<p>Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam “Islamia” Vol. V no. 1</p>
<p>Masood, Ehsan. 2009. <em>Ilmuwan-ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern</em>. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Alat/pengukur letak planet/bintang-bintang. (Al Barry, M.Dahlan. 1994. <em>Kamus Ilmiah Populer</em>. Surabaya : Penerbit Arkola)</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=510&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/ilmy/mencintai-ilmu-membangun-peradaban.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuntunan Bertaubat kepada Allah SWT</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/tuntunan-bertaubat-kepada-allah-swt.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/tuntunan-bertaubat-kepada-allah-swt.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 04:34:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafsi]]></category>
		<category><![CDATA[taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=479</guid>
		<description><![CDATA[oleh Dr. Yusuf al Qaradhawi
Penjelasan Tentang Unsur-unsur yang Menciptakan Hakikat          Taubat
Dari penuturan Al Gazhali dan ulama lainnya dapat ditarik          pengertian: bahwa hakikat taubat yang diperintahkan Allah          SWT bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Dr. Yusuf al Qaradhawi</p>
<h3>Penjelasan Tentang Unsur-unsur yang Menciptakan Hakikat          Taubat</h3>
<p>Dari penuturan Al Gazhali dan ulama lainnya dapat ditarik          pengertian: bahwa hakikat taubat yang diperintahkan Allah          SWT bagi seluruh kaum mu&#8217;minin agar mereka beruntung, serta          memerintahkan agar mereka bertaubat dengan taubat nasuha,          terdiri dari beberapa unsur dan faktor yang tiga itu:          tersusun secara berurutan satu sama lain. Seperti dijelaskan          oleh Al Ghazali.</p>
<h4><a name="1"></a>1. Unsur pengetahuan dalam taubat</h4>
<p>Unsur atau faktor pertama dari unsur-unsur itu adalah          unsur pengetahuan. Yang tampak dalam pengetahuan manusia          akan kesalahannya dan dosanya ketika ia melakukan          kemaksiatan kepada Rabbnya, serta matanya terbuka sehingga          ia dapat melihat kesalahannya itu, melepaskan sumbatan dari          telinganya sehingga ia dapat mendengar, dan mengusir          kegelapan dari akalnya sehingga ia dapat berpikir, dalam          setiap kesempatan kembalinya diri kepada fithrahnya. Saat          itu ia akan mengetahui keagungan Rabbnya, kemuliaan          maqam-Nya dan kebesaran hak-Nya. Juga mengetahui kekurangan          dirinya, mengapa ia mengikuti syaitan, serta kerugiannya          yang jelas di dunia dan akhirat jika ia terus berjalan          mengikuti perilaku Iblis dan tentaranya.</p>
<p>Saat itu, manusia butuh untuk memusatkan pikirannya,          menggunakan akalnya, serta merenungi dengan dalam tentang          dirinya dan apa yang berada di sekelilingnya, nilai-nilai          yang ia miliki, perjalanan dirinya, akhir perjalanannya          kemana, makna kehidupannya, kematian dan apa setelah          kematiannya, tentang ni&#8217;mat Allah yang demikian besar          baginya, sikapnya terhadap ni&#8217;mat-ni&#8217;mat itu, tentang ni&#8217;mat          Allah yang terus turun kepadanya, dan kejahatan dirinya akan          dilaporkan kepada Allah. Allah SWT akan menghidupkan          cintanya dengan memberikan ni&#8217;mat kepadaanya walaupun Allah          SWT tidak butuh kepadanya. Ia mendorong kemarahan Allah          dengan melakukan maksiat, sedangkan ia adalah orang yang          amat membutuhkan Allah, dan Allah tidak menutup pintu-Nya          bagi hamba-hambaNya, meskipun mereka telah melampaui batas          terhdap diri mereka sendiri, dan Allah terus memanggil          mereka:</p>
<blockquote><p>&#8220;Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.             Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya&#8221;. (QS.             az-Zumar: 53)</p></blockquote>
<p>Kesadaran jiwa adalah pangkal pertama bagi bangunan          taubat. Dialah yang akan mendorong hati untuk menyesal,          kemudian bertekad untuk meninggalkan dosa itu, lidahnya          beristihgfar, kemudian tubuhnya mencegah dari melakukan dosa          itu.</p>
<p>Inilah yang diperingatkan oleh Al Quran dalam firman          Allah SWT:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan orang -orang yang telah diberi ilmu,             meyakini bahwasanya Al Qur&#8217;an itulah yang hak dari             Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka             kepadanya&#8221; (QS. al Hajj: 54.). Dengan runtutan ini yang             ditunjukkan oleh hurup sambung &#8220;fa&#8221;.</p></blockquote>
<p>Yang pertama adalah pengetahuan, yang dengannya manusia          mengetahui bahwa kebenaran adalah dari Rabb mereka. Dan itu          akan menyebabkan mereka mengimaninya. Dengan demikian, ilmu          pengetahuan adalah petunjuk dan pemimpin keimanan. Kemudian          keimanan itu akan mengantarkan pada ketundukan dan khusyunya          hati.</p>
<p>Allah SWT berfirman tentang sifat kaum muttaqin:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan             perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat             akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa             mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain             dari pada Allah? &#8211; Dan mereka tidak meneruskan perbuatan             kejinya itu, sedang mereka mengetahui&#8221;. (QS. Ali Imran:             135)</p></blockquote>
<p>Mereka itu menyebut Allah, dan meminta ampunan dari dosa          mereka kepadaNya. Istighfar itu terjadi akibat dzikir atau          mengingat Allah SWT. Dan dzikir di sini adalah suatu macam          pengetahuan. Karena yang dimaksud di sini bukan dzikir          dengan lidah, seperti disangka orang. Namun ia adalah          kebalikan dari lupa dan kealpaan. Dan ia adalah bagian dari          macam-macam pengetahuan. Seperti firman Allah SWT:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa.&#8221;             (QS. al Kahfi: 24)</p></blockquote>
<p>Ilmu pengetahuan dalam Islam didahulukan dari keadaan          jiwa dan perbuatan tubuh. Oleh karena itu, tidak aneh jika          ayat yang pertama diturunkan dalam Al Quran adalah:</p>
<blockquote><p>&#8220;Bacalah dengan nama Tuhan-mu yang telah             menciptakan.&#8221; (QS. al &#8216;Alaq: 1)</p></blockquote>
<p>dan membaca adalah kunci ilmu pengetahuan.</p>
<p>Imam Al Bukhari berkata dalam shahihnya: bab: &#8220;Ilmu          sebelum beramal&#8221;. Ia berdalil dengan firman Allah SWT:</p>
<blockquote><p>&#8220;Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada             Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan             bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu&#8217;min, laki-laki             dan perempuan&#8221;. (QS. Muhammad: 19)</p></blockquote>
<p>Maka di sini didahulukan perintah untuk berilmu dari          perintah untuk beristighfar.</p>
<p>Al Qusyairi berkata dalam kitabnya &#8220;Risalah Qusyairiah&#8221;:          taubat yang pertama adalah: bangunnya hati dari kelalaian,          serta sang hamba melihat kondisi yang buruk akibat dosa yang          ia poerbuat. Dan itu akan mendorongnya untuk mengikuti          dorongan hati nuraninya agar tidak melanggar perintah Allah          SWT. Karena dalam khabar disebutkan: &#8220;penasehat dari Allah          SWT terdapat dalam hati setiap orang muslim&#8221;. (Hadits          diriwayatkan oleh Ahmad dari An Nuwas bin Sam&#8217;an). Dan dalam          khabar:</p>
<blockquote><p>&#8220;Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal             daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika             ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, ketahuilah itulah             hati&#8221;. (Hadits muttafaq alaih dari Nu&#8217;man bin Basyir).</p></blockquote>
<p>Jika hatinya merenungkan keburukan perbuatannya, serta ia          menyadari dosa-dosa yang ia perbuat itu, niscaya daam          hatinya akan terdetik keinginan untuk bertaubat, dana          menjauhkan diri dari melakukan tindakan-tindakan yang buruk          itu. Kemudian Allah SWT akan membantunya dengan menguatkan          tekadnya itu, melakukan tindakan koreksional atas          dosa-dosanya, serta melakukan perbuatan-perbuatan yang          seharusnya dalam bertaubat. (Risalah Qusyairiah dengan          tahqiq Dr. Abdul Halim Mahmud, dan Dr. Mahmud bin Syarif,          (juz 1/ 254, 255))</p>
<h4><a name="2"></a>2. Unsur Hati dan Keinginan</h4>
<p>Unsur kedua dalam taubat adalah: unsur jiwa, yang          berhubungan dengan hati dan keinginan diri. Atau dengna kata          lain: emosi dan inklinasi.</p>
<p>Dari unsur ini ada yang berhubungan dengan masa lalu, dan          ada yang berhubungan dengan masa depan.</p>
<h4><a name="2a"></a>a. Menyesal dengan sangat</h4>
<p>Yang berkaitan dengan masa lalu adalah apa ang kita kenal          dengan penyesalan. Tentang ini terdapat hadits: &#8220;penyesalan          adalah taubat&#8221;. Karena ia adalah bagian yang paling penting          dari taubat. Seperti dalam hadits &#8220;Hajji adalah Arafah&#8221;.          Karena ia adalah rukun yang paling penting dalam hajji itu.          al Qusyairi mengutip dari beberapa ulama: penyesalan itu          cukup untuk mewujudkan taubat. Karena penyesalan itu akan          menghantarkan kepada dua rukun lainnya, yaitu tekad dan          meninggalkan perbuatan dosa. Adalah mustahil jika ada          seseorang yang menyesali tindakan yang masih terus ia          lakukan atau ingin ia lakukan kembali.</p>
<p>Penyesalan adalah: perasaan, emosi atau gerak hati. Yaitu          suatu bentuk penyesalan dalam diri manusia atas perbuatan          dosa yang ia lakukan terhadap Rabbnya, terhadap makhluk yang          lain dan bagi dirinya sendiri. Ini adalah penyeslan yang          mirip dengan api yang membakar hati dengan sangat. Malah ia          akan merasakannya seperti dipanggang ketika ia mengingat          dosanya, sikap pelanggarannya serta hak Rabbnya atasnya. Itu          adalah kondisi &#8220;terbakar di dalam&#8221; yang diungkapkan oleh          sebagian kaum sufi ketika mereka mendefinisikan taubat:          melelehkan lemak (yang terkumpul) karena kesalahan masa          lalu. Dan yang lain berkata: ia adalah api hati yang          membakar, serta sakit dalam hati yang tidak terobati!.</p>
<p>Al Quran telah mendeskripsikan sisi jiwa ini bagi          beberapa orang yang melakukan taubat, dengan deskripsi yang          amat bagus. Yaitu dalam kisah tiga sahabat yang absen dari          mengikuti perang yang besar bersama Rasulullah Saw, yaitu          perang Tabuk. Yang merupakan peperangan pertama Rasulullah          Saw dengan negara yagn paling kuat di dunia saat itu: negara          Romawi. Mereka tidak mengungkapkan alasan bohong seperti          kaum munafik, maka Rasulullah Saw memerintahkan untuk          mengucilkan mereka. Kemudian mereka menyesali perbuatan          mereka itu dengan sangat, dan dilukiskan oleh Al Quran          sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>&#8220;Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan             (penerimaan taubat ) mereka, hingga apabila bumi telah             menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan             jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka,             serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari             dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian             Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam             taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima             taubat lagi Maha Penyayang&#8221;. (QS. at-Taubah: 118)</p></blockquote>
<p>Oleh karena itu Dzun-Nun al Mishri berkata: hakikat          taubat adalah: engkau merasakan bumi yuang luas ini menjadi          sempit karena dosamu, hingga engkau tidak dapat lari          darinya, kemudian kesempitan itu engkau rasakan dalam          dirimu. Seperti diungkapkan oleh al Quran: &#8220;dan jiwa          merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka&#8221;.</p>
<p>Di antara bentuk penyesalan adalah: mengakui dosa, dan          tidak lari dari pertanggungjawaban dosa itu, serta meminta          ampunan dan maghfirah dari Allah SWT.</p>
<p>Seperti kita temukan dalam kisah Adam setelah beliau dan          istirnya memakan pohon yang dilarang itu:</p>
<blockquote><p>&#8220;Keduanya berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, kami telah             menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak             mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya             pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi&#8221;. (QS. al             A&#8217;raf: 23)</p></blockquote>
<p>Dan seperti kita temukan dalam kisah Nuh ketika ia          meminta ampunan kepada Rabbnya atas anaknya yang kafir. Dan          jawaban Ilahi terhadapnya adalah:</p>
<blockquote><p>&#8220;Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk             keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan),             sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik.             Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang             kamu tidak mengetahui (hakekat) nya. Sesungguhnya Aku             memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk             orang-orang yang tidak berpengetahuan&#8221;. (QS. Huud: 46)</p></blockquote>
<p>Di sini Nuh a.s. merasakan kesalahannya, dan iapun          menyesalinya. Serta berkata:</p>
<blockquote><p>&#8220;Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada             Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada             mengetahui (hakekatnya) . Dan sekiranya Engkau tidak             memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan             kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang             merugi&#8221;. (QS. Huud: 47)</p></blockquote>
<p>Dan seperti kita lihat dalam kisah Musa, ketika beliau          memukul seorang laki-laki dari Koptik dan menewaskannya:</p>
<blockquote><p>Musa berkata: &#8216;Ini adalah perbuatan syaitan             sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan             lagi nyata (pemusuhannya)&#8217;. (QS. al Qashash: 15-16)</p></blockquote>
<p>Juga kita lihat dalam kisah nabi Yunus:</p>
<blockquote><p>&#8220;Ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia             menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya             (menyulitkannya), maka dia menyeru dalam keadaan yang             sangat gelap: &#8220;Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak             disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya             aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.&#8221; (QS. al             Anbiyaa: 87)</p></blockquote>
<p>Meskipun jika kita perhatikan dosa-dosa yang diperbuat          oleh para Rasul itu adalah dosa-dosa kecil, terutama jika          kita perhatikan situasi dan kondisi terjadinya dosa itu,          maka dosa-dosa itu memang ringan. Namun para Rasul itu,          karena halusnya perasaan mereka, hati mereka yang hidup,          serta perasaan mereka yang kuat akan hak Rabb mereka, maka          mereka melihat dosa itu sebagai dosa yang amat besar, mereka          mengakui kesalahan diri mereka, dan merekapun segera memohon          ampunan dan maghfirah dari Rabb mereka, karena Dia adalah          Maha Pengampun dan Maha Penyayang.<a href="http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/tuntunan-bertaubat-kepada-allah-swt.html/attachment/sujud" rel="attachment wp-att-502"><img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/05/sujud-150x150.jpg" alt="" title="sujud" width="150" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-502" /></a></p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=479&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/tazkiyatun-nafsi/tuntunan-bertaubat-kepada-allah-swt.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekuntum Cinta Untuk Bunda</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/thaushiah/sekuntum-cinta-untuk-bunda.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/thaushiah/sekuntum-cinta-untuk-bunda.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 07:41:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thaushiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=475</guid>
		<description><![CDATA[Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu.” Beliau menjawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-476" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/thaushiah/sekuntum-cinta-untuk-bunda.html/attachment/ibu_nganter_ke_sekolah2"><img class="alignleft" title="bunda" src="../wp-content/uploads/2010/05/ibu_nganter_ke_sekolah2-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu.” Beliau menjawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti mendurhakainya.” (Uyunul Akhyar, karya Ibnu Qutaibah)</p>
<p>Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain. Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, “Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Ibunya menjawab, “Dan untukmu keselamatan wahai anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.” Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak memasuki rumah.” ( Adab al-Mufrad, karya Imam Bukhari)</p>
<p>Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.” ( Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)</p>
<p>Sufyan bin Uyainah mengatakan, “ Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang tersebut enggan duduk karena ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang di dapatkan anaknya. ( Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)</p>
<p>Haiwah binti Syuraih adalah seorang ulama besar, suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. “Hai Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum.” Mendengar panggilan ibunya beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya. (ibid. )</p>
<p>Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi melihat seekor kalajengking berada dalam rumahnya, beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata beliau kalah cepat, kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam liangnya. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalam liang untuk menangkap kalajengking tersebut. Beliaupun tersengat kalajengking. Melihat tindakan seperti itu ada orang yang berkomentar, “Apa yang kau maksudkan dengan tindakan seperti itu.” Beliau mengatakan, “Aku khawatir kalau kalajengking tersebut keluar dari liangnya lalu menyengat ibuku.” ( Nuhzatul Fudhala’)</p>
<p>Muhammad bin Sirin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya. (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa ku berikan pasti ku berikan.” (Diambil dari Shifatush Shafwah)</p>
<p>Hafshah binti Sirin mengatakan, “Ibu dari Muhammad bin Sirin sangat suka celupan warna untuk kain. Jika Muhammad bin Sirin memberikan kain untuk ibunya, maka beliau belikan kain yang paling halus. Jika hari raya tiba, Muhammad bin Sirin mencelupkan pewarna kain untuk ibunya. Aku tidak pernah melihat Muhamad bin Sirin bersuara keras di hadapan ibunya. Apabila beliau berkata-kata dengan ibunya, maka beliau seperti seorang yang berbisik-bisik. (Siyar A’lam an-Nubala’, karya adz-Dzahabi).</p>
<p>Ibnu Aun mengatakan, “Suatu ketika ada seorang menemui Muhammad bin Sirin pada saat beliau sedang berada di dekat ibunya. Setelah keluar rumah beliau bertanya kepada para sahabat Muhammad bin Sirin, “ Ada apa dengan Muhammad, apakah dia mengadukan suatu hal? Para sahabat Muhammad bin Sirin mengatakan, “Tidak. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya jika berada di dekat ibunya.” (ibid )</p>
<p>Humaid mengatakan, tatkala Ibu dari Iyas bin Muawiyah meninggal dunia, Iyas menangis, ada yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, “Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup.” ( Bir wasilah, karya Ibnul Jauzi)</p>
<p>Uwais al-Qorni</p>
<p>Dari Asir bin Jabir beliau mengatakan, “Jika para gubernur Yaman menemui khalifah Umar Ibnul Khatthab, maka khalifah selalu bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir?? ”,</p>
<p>Sampai suatu hari beliau bertemu dengan Uwais, beliau bertanya, “engkau Uwais bin Amir?”, “Betul” Jawabnya. Khalifah Umar bertanya, “Engkau dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn?”,<br />
“Betul,” sahutnya. Beliau bertanya, “Dulu engkau pernah terkena penyakit belang lalu sembuh akan tetapi masih ada belang di tubuhmu sebesar uang dirham?”, “Betul.” Beliau bertanya, “Engkau memiliki seorang ibu.”</p>
<p>Khalifah Umar mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Uwais bin Amir akan datang bersama rombongan orang dari Yaman dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn. Dahulu dia pernah terkena penyakit belang, lalu sembuh, akan tetapi masih ada belang di tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.” Maka mohonkanlah ampun kepada Allah untukku, Uwais al-Qarni lantas berdoa memohonkan ampun untuk Umar Ibnul Khaththab. Setelah itu Umar bertanya kepadanya, “Engkau hendak pergi ke mana? “Kuffah,” jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Maukah ku tuliskan surat untukmu kepada gubernur Kuffah agar melayanimu? Uwais al-Qorni mengatakan, “Berada di tengah-tengah banyak orang sehingga tidak dikenal itu lebih ku sukai.” (HR. Muslim)</p>
<p>***</p>
<p>Dari Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Celakalah dia, celakalah dia”, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1758, ringkasan)</p>
<p>“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS. Luqman : 14).</p>
<p>Sumber : Inspiring Stories II, Facebook</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=475&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/thaushiah/sekuntum-cinta-untuk-bunda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RA Kartini dan Pengaruh Pemikiran Yahudi, Theosofi dan Pluralisme</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/kajian/ra-kartini-dan-pengaruh-pemikiran-yahudi-theosofi-dan-pluralisme.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/kajian/ra-kartini-dan-pengaruh-pemikiran-yahudi-theosofi-dan-pluralisme.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 07:22:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[Kebanyakan orang yang menjadikan Kartini sebagai ikon perjuangan perempuan Indonesia, tak melihat sisi lain dari pemikirannya yang sangat berbau Theosofi dan kebatinan. Padahal, banyak tokoh wanita lain yang hidup semasa dengannya, yang berjuang secara nyata dalam dunia pendidikan, bukan dalam wacana surat menyurat seperti yang dilakukan Kartini. 
TANGGAL 21 April dikenal sebagai Hari Kartini. Hampir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kebanyakan orang yang menjadikan Kartini sebagai ikon perjuangan perempuan Indonesia, tak melihat sisi lain dari pemikirannya yang sangat berbau Theosofi dan kebatinan. Padahal, banyak tokoh wanita lain yang hidup semasa dengannya, yang berjuang secara nyata dalam dunia pendidikan, bukan dalam wacana surat menyurat seperti yang dilakukan Kartini. </em></p>
<p><strong>TANGGAL </strong>21 April dikenal sebagai Hari Kartini. Hampir semua perempuan di Indonesia, termasuk kaum muslimah, yang ikut-ikutan memperingati hari tersebut tanpa mengetahui latar belakang sejarahnya yang jelas. Siapa sesungguhnya Kartini? Siapa orang-orang yang mempengaruhinya? Bagaimana corak pemikirannya?</p>
<p>Peringatan Hari Kartini sering diikuti beragam acara yang mengedepankan emansipasi perempuan, kesetaraan gender, perjuangan feminisme, dan lain-lain. Kartini, dianggap sebagai ikon bagi perjuangan perempuan dalam persoalan tersebut. Kartini sering disebut sebagai ikon pendobrak bagi kemajuan perempuan Indonesia dan diakui secara resmi oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 108 tahun 1964.</p>
<p>Kartini lahir di desa Mayong, sebelah barat Kota Kudus, Kabupaten Jepara. Sebagai anak seorang bupati, Kartini hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Saat kecil, Kartini dimasukkan ke sekolah elit orang-orang Eropa, Europese Lagere School (ELS) dari tahun 1885-1892. Di sekolah ini, Kartini banyak bergaul dengan anak-anak Eropa.</p>
<p>Sebagai keluarga priyayi Jawa, kultur mistis dan kebatinan begitu melekat di lingkungan tempat tinggalnya. Namun bagi Kartini, ikatan adat istiadat yang telah berurat akar dalam itu, dianggap mengekangnya sebagai perempuan. Setelah tamat dari sekolah ELS Kartini memasuki masa pingitan. Sementara itu, Kartini merasakan betul betapa haknya mendapatkan pendidikan secara utuh dibatasi. Di luar, ia melihat pendidikan Barat-Eropa begitu maju.</p>
<p>Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi, seperti J. H Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri, seorang humanis yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini. Ny Abendanon Mandri adalah seorang wanita kelahiran Puerto Rico dan berdarah Yahudi.</p>
<blockquote><p>…Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini…</p></blockquote>
<p>Tokoh lain yang berhubungan dengan Kartini adalah, H. H Van Kol (Orang yang berwenang dalam urusan jajahan untuk Partai Sosial Demokrat di Belanda), Conrad Theodore van Daventer (Anggota Partai Radikal Demokrat Belanda), K. F Holle (Seorang Humanis), dan Christian Snouck Hurgronye (Orientalis yang juga menjabat sebagai Penasihat Pemerintahan Hindia Belanda), dan Estella H Zeehandelar, perempuan yang sering dipanggil Kartini dalam suratnya dengan nama Stella. Stella adalah wanita Yahudi pejuang feminisme radikal yang bermukim di Amsterdam. Selain sebagai pejuang feminisme, Estella juga aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP).</p>
<p>Kartini berkorespondensi dengan Stella sejak 25 Mei 1899. Dengan perantara iklan yang di tempatkan dalam sebuah majalah di Belanda, Kartini berkenalan dengan Stella. Kemudian melalui surat menyurat, Stella memperkenalkan Kartini dengan berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme.</p>
<p>Dalam sebuah suratnya kepada Ny Nellie Van Koll pada 28 Juni 1902, Stella mengakui sebagai seorang Yahudi dan mengatakan antara dirinya dan Kartini mempunyai kesamaan pemikiran tentang Tuhan. Stella mengatakan,”Kartini dilahirkan sebagai seorang Muslim, dan saya dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Meskipun demikian, kami mempunyai pikiran yang sama tentang Tuhan. ”</p>
<p>Dr Th Sumarna dalam bukunya ”Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini” menyatakan ada surat-surat Kartini yang tak diterbitkan oleh Ny. Abendanon Mandri, terutama surat-surat yang berkaitan dengan pengalaman batin Kartini dalam dunia okultisme (kebatinan dan mistis). Entah dengan alasan apa, surat-surat tersebut tak diterbitkan. Ny Abendanon hanya menerbitkan kumpulan surat Kartini yang diberi judul <em>”Door Duisternis tot Licht&#8221;</em> (Habis Gelap Terbitlah Terang). Keterangan mengenai kepercayaan Kartini terhadap okultisme hanya didapat dari surat-suratnya yang ditujukan kepada Stella dan keluarga Van Kol. Seperti diketahui, okultisme banyak diajarkan oleh jaringan Freemasonry dan Theosofi, sebagai bagian dari ritual perkumpulan mereka.</p>
<p>Nama-nama lain yang menjadi teman berkorespondensi Kartini adalah Tuan H. H Van Kol, Ny Nellie Van Kol, Ny M. C. E Ovink Soer, E. C Abendanon (anak J. H Abendanon), dan Dr N Adriani (orang Jerman yang diduga kuat sebagai evangelis di Sulawesi Utara). Kepada Kartini, Ny Van Kol banyak mengajarkan tentang Bibel, sedangkan kepada Dr N Adriani, Kartini banyak mengeritik soal zending Kristen, meskipun dalam pandangan Kartini semua agama sama saja.</p>
<p>Apakah korespondensi Kartini dengan para keturunan Yahudi penganut humanisme, yang juga diduga kuat sebagai aktivis jaringan Theosofi-Freemasonry, berperang penting dalam memengaruhi pemikiran Kartini? Ridwan Saidi dalam buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia menyebutkan, sebagai orang yang berasal dari keturunan priayi atau elit Jawa dan mempunyai bakat yang besar dalam pendidikan, maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu.</p>
<blockquote><p>…maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu&#8230;</p></blockquote>
<p>Dalam catatan Ridwan Saidi, orang-orang Belanda gagal mengajak Kartini berangkat studi ke negeri Belanda. Karena gagal, maka mereka menyusupkan ke dalam kehidupan Kartini seorang gadis kader Zionis bernama Josephine Hartseen. Hartseen, menurut Ridwan adalah nama keluarga Yahudi.</p>
<p>Siapa yang berperan penting merekatkan hubungan Kartini dengan para elit Belanda? Adalah Christian Snouck Hurgronje orang yang mendorong J.H Abendanon agar memberikan perhatian lebih kepada Kartini bersaudara. Hurgronje adalah sahabat Abendanon yang dianggap oleh Kartini mengerti soal-soal hukum agama Islam. Atas saran Hurgronje agar Abendanon memperhatikan Kartini bersaudara, sampailah pertemuan antara Abendanon dan Kartini di Jepara.</p>
<p>Sebagai seorang orientalis, aktivis Gerakan Politik Etis, dan penasihat pemerintah Hindia Belanda, Snouck Hurgronje juga menaruh perhatian kepada kepada anak-anak dari keluarga priyayi Jawa lainnya. Hurgronje berperan mencari anak-anak dari keluarga terkemuka untuk mengikuti sistem pendidikan Eropa agar proses asimilasi berjalan lancar.</p>
<p>Langkah ini persis seperti yang dilakukan sebelumnya oleh gerakan Freemasonry lewat lembaga ”Dienaren van Indie” (Abdi Hindia) di Batavia yang menjaring anak-anak muda yang mempunyai bakat dan minat untuk memperoleh beasiswa. Kader-kader dari ”Dienaren van Indie” kemudian banyak yang menjadi anggota Theosofi dan Freemasonry.</p>
<p><strong>Pengaruh Theosofi dalam Pemikiran Kartini</strong></p>
<p>Surat-surat Kartini kepada Ny. Abendanon, orang yang dianggap satu-satunya sosok yang boleh tahu soal kehidupan batinnya, dan surat-surat Kartini lain<a rel="attachment wp-att-506" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/kajian/ra-kartini-dan-pengaruh-pemikiran-yahudi-theosofi-dan-pluralisme.html/attachment/letters-from-kartini"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-506" title="letters-from-kartini" src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/05/letters-from-kartini-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>ya para humanis <img src="http://www.voa-islam.com/photos/mumtaz/kartini-letter.jpg" alt="" width="206" height="266" />Eropa keturunan Yahudi di era 1900-an sangat kental nuansa Theosofinya. Seperti ditulis dalam surat-suratnya, Kartini mengakui ada orang yang mengatakan bahwa dirinya tanpa sadar sudah masuk kedalam alam pemikiran Theosofi.</p>
<p>Bahkan, Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi. Selain itu, semangat pemikiran dan perjuangan Kartini juga sama sebangun dengan apa yang menjadi pemikiran kelompok Theosofi. Inilah yang kemudian, banyak para humanis yang menjadi sahabat karib Kartini begitu tertarik kepada sosok perempuan ini.</p>
<blockquote><p>…Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi…</p></blockquote>
<p>Kartini juga kerap mendapat kiriman buku-buku dari Ny Abendanon, yang di antaranya buku tentang humanisme, paham yang juga lekat dengan Theosofi dan Freemasonry. Diantara buku-buku yang dibaca Kartini adalah, Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier, Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens.</p>
<p>Berikut surat-surat Kartini yang sangat kental dengan doktrin-doktrin Theosofi:<br />
”Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni. ” (Surat kepada Ny Abendanon, 14 Desember 1902).</p>
<p><em>”Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna&#8230;&#8221;</em> (Surat Kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).</p>
<p><em>”Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain”</em> (Surat 31 Januari 1903).</p>
<p><em>”Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain.” </em>(Surat kepada E. C Abendanon, 31 Januari 1903).</p>
<p><em>”Ia tidak seagama dengan kita, tetapi tidak mengapa, Tuhannya, Tuhan kita. Tuhan kita semua.” </em>(Surat Kepada H. H Van Kol 10 Agustus 1902).</p>
<p><em>”Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda, tetapi kesemuanya menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita juga mengabdi kepada Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan, dan kami sendiri menyebutnya Allah.” </em>(Surat kepada Dr N Adriani, 24 September 1902).</p>
<blockquote><p>…Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan pluralisme…</p></blockquote>
<p>Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan pluralisme.</p>
<p>Mengenai keterkaitan dan hubungannya dengan Theosofi, Kartini mengatakan:</p>
<p><em>”Orang yang tidak kami kenal secara pribadi hendak membuat kami mutlak penganut Theosofi, dia bersedia untuk memberi kami keterangan mengenai segala macam kegelapan di dalam pengetahuan itu. Orang lain yang juga tidak kami kenal menyatakan bahwa tanpa kami sadari sendiri, kami adalah penganut Theosofi.&#8221;</em> (Surat Kepada Ny Abendanon, 24 Agustus 1902).</p>
<p><em>Hari berikutnya kami berbicara dengan Presiden Perkumpulan Theosofi, yang bersedia memberi penerangan kepada kami, lagi-lagi kami mendengar banyak yang membuat kami berpikir.”</em> (Surat Kepada Nyonya Abendanon, 15 September 1902).</p>
<p>Sebagai orang Jawa yang hidup di dalam lingkungan kebatinan, gambaran Kartini tentang hubungan manusia dengan Tuhan juga sama: manunggaling kawula gusti. Karena itu, dalam surat-suratnya, Kartini menulis Tuhan dengan sebutan ”Bapak”. Selain itu, Kartini juga menyebut Tuhan dengan istilah ”Kebenaran”, ”Kebaikan”, ”Hati Nurani”, dan ”Cahaya”, seperti tercermin dalam surat-suratnya berikut ini:</p>
<p><em>”Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia.”</em> (Surat kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).</p>
<p>”Kebaikan dan Tuhan adalah satu.” (Surat kepada Ny Nellie Van Kol, 20 Agustus 1902).</p>
<blockquote><p>…Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat…</p></blockquote>
<p>Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat. Inilah yang oleh kelompok Theosofi disebut sebagai upaya menyatukan antara ”Timur dan Barat”. Sebuah upaya yang banyak memikat para elit Jawa, terutama mereka yang sudah terbaratkan secara pemikiran.</p>
<p>Siti Soemandari, penulis biografi Kartini mengatakan, dalam beragama, Kartini kembali kepada akar-akar kejawennya atau apa yang disebut dengan ngelmu kejawen. Soemandari mempertegas, kepercayaan Kartini adalah gabungan antara iman Islam dan Kejawen. Atau dalam bahasa lain, keyakinan agama atau kepercayaan Kartini adalah sinkretisme yang berlandaskan pada pluralisme agama.</p>
<blockquote><p>…Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung…</p></blockquote>
<p>Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung oleh seorang Teosof bernama R. Musa dan kemudian menyebar di berabagai daerah di Jawa. Tercatat ada beberapa daerah yang berdiri Sekolah Kartini, yaitu Jatinegara (Jakarta), Semarang, Bogor, Madiun (1914), Cirebon, Malang (1916), dan Indramayu (1918).</p>
<p>Sebagai sekolah yang dikelola oleh para Teosof, ajaran tentang kebatinan, sinkretisme&#8211;atau sekarang lebih populer dengan istilah pluralisme&#8211; juga tentang pembentukan watak dan kepribadian, lebih menonjol dalam pelajaran di sekolah-sekolah tersebut. Sekolah lain yang didirikan di berbagai daerah oleh kelompok Theosofi adalah Arjuna School, dengan muatan nilai-nilai pendidikan yang sama dengan Kartini School.</p>
<p><strong>Tepatkah jika Kartini, berpikiran Barat dan berpaham Theosofi, dijadikan ikon bagi perjuangan kaum wanita pribumi?</strong></p>
<p>Sejarah mencatat, ada banyak perempuan yang hidup sezaman dengan Kartini yang namanya begitu saja dilupakan dalam perannya memajukan pendidikan kaum hawa di negeri ini. Di antara nama itu adalah Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung yang juga berkiprah memajukan pendidikan kaum perempuan. Dewi Sartika tak hanya berwacana, tapi juga mendirikan lembaga pendidikan yang belakangan bernama Sakolah Kautamaan Istri (1910). Selain Dewi Sartika, ada Rohana Kudus, kakak perempuan Sutan Sjahrir, di Padang, Sumatera Barat, yang berhasil mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916).</p>
<p>Kartini, seperti yang tersirat dalam tulisan Prof Harsja W Bachtiar, adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia. Atau setidaknya, bahwa proses asimiliasi yang dilakukan kelompok humanis Belanda yang mengusung Gerakan Politik Etis pada masa kolonial, telah sukses melahirkan sosok yang Kartini yang ”tercerahkan” dengan pemikiran Barat</p>
<blockquote><p>…Kartini adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia</p></blockquote>
<p>Karena itu, Harsja menilai, sejarah harus jujur dan secara terbuka melihat jika memang ada orang-orang yang juga mempunyai peran penting seperti Kartini, maka orang-orang tersebut juga layak mendapat penghargaan serupa, tanpa menihilkan peran yang dilakukan oleh Kartini.</p>
<p>Soal sosok Kartini yang diduga menjadi ”mitos dan rekayasa” yang diciptakan oleh kolonialis juga menjadi perhatian sejarawan senior Taufik Abdullah. Ia menulis:</p>
<p><em>”Tak banyak memang ”pahlawan” kita resmi atau tidak resmi yang dapat menggugah keluarnya sejarah dari selimut mitos yang mengitari dirinya. Sebagian besar dibiarkan aman tenteram berdiam di alam mitos—mereka adalah ”pahlawan” dan selesai masalahnya. R. A Kartini adalah pahlawan tanpa henti membiarkan dirinya menjadi medan laga antara mitos dan sejarah. Pertanyaan selalu dilontarkan kepada selimut makna yang menutupinya. Siapakah ia sesungguhnya? Apakah ia hanya sekadar hasil rekayasa politik etis pemerintah kolonial yang ingin menjalankan politik asosiasi?”</em></p>
<p>Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional. Ny Eleanor Roosevelt, istri Presiden AS Franklin D Roosevelt memberikan pernyataan tentang perjuangan Kartini:</p>
<p><em>”Saya senang sekali memperoleh pandangan-pandangan yang tajam yang diberikan oleh surat-surat ini. Satu catatan kecil dalam surat itu, menurut saya merupakan sesuatu yang patut kita semua ingat. Kartini katakan: Kami merasa bahwa inti dari semua agama sama adalah hidup yang benar, dan bahwa semua agama itu baik dan indah. Akan tetapi, wahai umat manusia, apa yang kalian perbuat dengan dia? Daripada mempersatukan kita, agama seringkali memaksa kita terpisah, dan sedangkan gadis yang muda ini, menyadari bahwa ia harus menjadi kekuatan pemersatu”. </em></p>
<blockquote><p>…Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional…</p></blockquote>
<p>Siapa Ny. Eleanor Roosevelt? Dalam buku Decoding the Lost Symbol, Simon Cox menyebut Eleanor Roosevelt adalah aktivis organisasi the Star of East, sebuah organisasi yang berada di bawah kendali Freemasonry, yang menerima perempuan sebagai anggotanya. Di Batavia, organisasi the Star of East (Bintang Timur), pada masa lalu sangat mengakar dengan berdirinya loge Freemasonry, De Ster in het Oosten (Bintang Timur) di kawasan Weltevreden, yang sekarang berada di jalan Boedi Oetomo.</p>
<p>Jadi, masih mengidolakan Kartini? [Artawijaya/voa-islam.com]</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=472&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/kajian/ra-kartini-dan-pengaruh-pemikiran-yahudi-theosofi-dan-pluralisme.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersaudara dan Saling Menasihati</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/akhlak/bersaudara-dan-saling-menasihati.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/akhlak/bersaudara-dan-saling-menasihati.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 20:57:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[formasi-fib-ui.org&#8211;29 April 2010. Api peperangan di lembah Badr telah padam. Perang ini berakhir dengan kemenangan Dienul Haq (agama yang benar) atas Dienul Kufr. Sejumlah 14 mujahid muslimin syahid; 6 orang dari pihak Muhajirin, sisanya 8 orang dari pihak Anshar. Di lain pihak sebanyak 70 orang tentara musyrik Makkah ditawan, dan 70 orang lainnya tewas. Kebanyakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>formasi-fib-ui.org&#8211;29 April 2010. Api peperangan di lembah Badr telah padam. Perang ini berakhir dengan kemenangan Dienul Haq (agama yang benar) atas Dienul Kufr. Sejumlah 14 mujahid muslimin syahid; 6 orang dari pihak Muhajirin, sisanya 8 orang dari pihak Anshar. Di lain pihak sebanyak 70 orang tentara musyrik Makkah ditawan, dan 70 orang lainnya tewas. Kebanyakan dari mereka adalah para pemuka dan pembesar Makkah.</p>
<p>Sebelum Islam datang, masyarakat Arab hidup dalam sistem &#8216;ashabiyyah yang fanatik terhadap qabilah (suku) dan keturunan. Hubungan mereka kepada suku dan keturunan adalah hubungan hidup dan mati. &#8220;<em>Bela saudaramu salah atau benar</em>&#8220;, itulah semboyan mereka yang diterjemahkan secara harfiah. Hidup dan mati mereka dipersembahkan untuk menjaga kehormatan dan keberlangsungan suku dan keturunan. (Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, Ar-Rahiqul Makhtum, hal. 45)</p>
<p>Dan di perang Badr ini (Ramadhan 2 H), perang pertama dalam sejarah perjalanan Islam, justru mereka orang-orang Muhajirin Makkah khususnya berperang melawan saudara, keturunan dan suku, bahkan ada yang berperang melawan ayah, paman atau anaknya sendiri, yang berbeda aqidah. Umar bin Al-Khaththab membunuh pamannya, &#8216;Ash bin Hisyam yang kafir. Abu Bakr berperang melawan anaknya, Abdurrahman yang ketika itu belum memeluk Islam.</p>
<p>Lain lagi kisah antara Mush&#8217;ab bin Umair dan saudara kandungnya, Abu Aziz bin Umair. &#8220;<em>Perkuat ikatannya, ibunya adalah orang yang kaya raya. Siapa tahu ia akan menebus anaknya dengan tawaran yang mahal</em>&#8220;, pinta Mush&#8217;ab kepada orang Anshar yang menawan Abu Aziz sebagai tawanan perang Badr.</p>
<p>&#8220;<em>Beginikah caramu memperlakukan saudara kandungmu?</em>&#8216; tanya Abu Aziz heran. &#8220;<em>Kamu bukan saudaraku. Tapi orang yang menahanmu itulah saudaraku,</em>&#8221; jawab Mush&#8217;ab (wafat 3 H) dengan tegas.</p>
<p>Islam telah merajut tali persaudaraan antara sesama pemeluknya tanpa mengenal batas hubungan darah, warna kulit, status sosial dan batas negara. Dan hal tersebut telah dipraktikkan secara sempurna oleh generasi pertama Islam, para sahabat Nabi `.</p>
<p><strong>Ukhuwah dan Solidaritas</strong></p>
<p>Rasa ukhuwah (persaudaraan) yang dilahirkan Islam buat pemeluknya telah melahirkan sifat solidaritas sosial yang tinggi dalam kehidupan masyarakat Muslim dan dalam peradaban manusia. Al-Qur&#8217;an mengabadikan realitas tersebut.</p>
<p>&#8220;<em>Dan mereka (orang-orang Anshar) mengutamakan (Orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)</em>&#8221; (Al-Hasyr: 9).</p>
<p>Seorang lelaki mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasalam , tulis Ibn Katsir ketika menafsirkan ayat di atas tadi di dalam tafsirnya. &#8220;<em>Ya Rasulullah, saya sedang tertimpa kesusahan</em>&#8221; kata orang tadi mengadu-kan nasibnya. Si lelaki tadi disuruh mendatangi rumah isteri-isteri Nabi shallallahu alaihi wasalam . Namun, ia tidak menemukan bantuan karena mereka juga tidak punya.</p>
<p>&#8220;<em>Adakah seseorang yang mau menjamunya malam ini? Semoga Allah merahmatinya</em>&#8221; seru Rasulullah shallallahu alaihi wasalam kepada para sahabatnya.</p>
<p>&#8220;<em>Saya ya Rasulullah</em>&#8221; jawab Abu Thalhah, orang Anshar menyanggupi.</p>
<p>&#8220;<em>Ini tamu Rasulullah shallallahu alaihi wasalam , sediakan semua jamuan untuknya dan jangan disisakan</em>&#8221; pinta Abu Thalhah kepada istrinya setelah ia tiba di rumah. &#8220;<em>Tapi kita tidak punya makanan apapun kecuali makanan untuk anak-anak</em>&#8220;, jawab istrinya masygul.</p>
<p>&#8220;<em>Jika anak-anak minta makan ajaklah tidur, kemudian kamu ke sinilah lalu matikan lampu, dan biarlah kita sekeluarga lapar malam ini</em>&#8220;. Di kala pagi Abu Thalhah bertemu Rasulullah, lalu beliau bersabda: &#8220;<em>Allah merasa kagum (atau tertawa) kepada dia dan isterinya</em>&#8220;, kata Rasulullah ` memuji. (HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Islam telah mengikrarkan bahwa sesama Muslim adalah bersaudara. &#8220;<em>Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara</em>&#8221; (Al-Hujurat: 10). Ayat ini telah meletakkan dasar keimanan sebagai tali pengikat rasa ukhuwah. Perbedaan warna kulit, suku, bangsa dan status sosial telah disatukan Islam dalam kerangka Iman. Islam memprioritaskan seseorang berdasarkan status taqwanya.</p>
<p>Allah berfirman: &#8220;<em>Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu</em>&#8221; (Al-Hujuraat: 11).</p>
<p>Rasa ukhuwah yang tumbuh pada setiap jiwa orang mukmin merupakan nikmat Allah yang perlu diingat (disyukuri). Ukhuwah di dalam Islam mempunyai arti tersendiri. Penyebutan ukhuwah -sebagai suatu nikmat- didahulukan dari penyebutan diselamat-kannya orang-orang yang beriman dari neraka (lihat QS. Ali Imran: 103).</p>
<p>Rasa ukhuwah akan tumbuh subur jika sifat ananiyah (mementingkan diri sendiri), dan cinta dunia dikubur dalam-dalam. Untuk menghilangkan sifat ananiyah, Rasulullah shallallahu alaihi wasalam menjadikan rasa cinta kepada sesama Muslim sebagai bentuk kesempurnaan Iman.</p>
<p>&#8220;<em>Tidak (sempurna) iman seseorang hingga ia menginginkan bagi saudaranya apa yang ia inginkan untuk dirinya</em>&#8220;.(HR. Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Dan nilai-nilai keduniaan yang akan menjadi penghambat tumbuhnya rasa ukhuwah akan sirna jika manusia melihat dan merenungi asal-usulnya, dan menyadari bahwa kemuliaan yang hakiki di sisi Allah dinilai dari sisi ketaqwaannya.</p>
<p>Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalam bersabda: &#8220;<em>Wahai manusia, Tuhan kalian satu, dan bapak kalian satu, kalian berasal dari Adam, dan Adam dari tanah. Sesungguh-nya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Tidak ada keutamaan bangsa Arab atas bangsa lain, tidak pula bagi bangsa lain atas bangsa Arab, tidak ada keutamaan bagi kulit merah atas kulit putih dan bagi kulit putih atas kulit merah, melainkan dengan takwanya.</em>&#8221; (HR. Ahmad).</p>
<p>Rasa ukhuwah berwujud dalam bentuk solidaritas sosial. Solidaritas sosial di kalangan umat muslimin ada dua macam; dalam arti moral dan material. Solidaritas dalam arti material terdiri dari pemenuhan kebutuhan-kebutuhan masyarakat, perasaan ikut mengalami kesusahan yang diderita oleh anggota masyarakat, kesediaan untuk membantu memperjuangkan kepentingan bersama dalam rangka meningkatkan standar hidup masyarakat, dan pelayanan terhadap seluruh anggota masyarakat dalam hal-hal yang menguntungkan mereka.</p>
<p>Sedangkan solidaritas sosial dalam arti moral diwujudkan dalam bentuk kemauan untuk mengajak sesamanya untuk mengakui dan mengikuti kebenar-an serta menjauhi segala kemungkaran -al amru bil ma&#8217;ruf wannahyu &#8216;anil munkar.</p>
<p>Ukhuwah sejati adalah ukhuwah yang dibina atas dasar keimanan. Rasa ukhuwah yang dibangun bukan atas dasar iman –entah itu kepentingan pribadi atau kelompok- hanya akan langgeng jika aspek yang menguntungkan kepentingan tadi ada. Tanpa dasar keimanan, persaudaraan hanya akan menjadi sarana untuk meraih kepen-tingan duniawi, tak lebih dari itu.</p>
<p><strong>Berukhuwah dan Saling Menasihati</strong></p>
<p>Termasuk dari lima orang pertama yang masuk Islam adalah Abu Bakar (wafat 13 H). Abu Bakar adalah teman dekat Nabi shallallahu alaihi wasalam . Keduanya telah lama berteman jauh sebelum Nabi diangkat menjadi Nabi &amp; Rasul. Dan lewat persahabatan, Abu Bakar meng-Islamkan Usman bin Affan (wafat 40 H), Zubair bin Awwam (wafat 36 H), Abdurrahman bin Auf (wafat 34 H), Sa&#8217;d bin Abi Waqqas (wafat 55 H) dan Thalhah bin Ubaidillah (wafat 36 H). Di sini Abu Bakar menggunakan hubungan persahabatan untuk menyebarkan Islam kepada teman-temannya yang dikenal kepribadiannya dengan baik.</p>
<p>Menasehati teman (seseorang) yang telah dikenal baik, kemungkinan untuk diterima lebih besar. Nasehat tidak mesti harus diterima, kadang bahkan tidak diterima sama sekali. Diperlukan waktu dan pengulangan nasihat agar dapat diterima –jika Allah menghendaki. Al-Qur&#8217;an dan Al-Hadits pun menggunakan bahasa &#8216;pengulangan&#8217; untuk suatu perintah (baca: nasihat) tertentu.</p>
<p>Allah mengulang-ulang ayat yang artinya &#8220;maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan&#8221; seba-nyak 30 kali dalam satu surat (Ar-Rahman: 55). Tentunya ayat tersebut dilatarbela-kangi dengan hal yang tidak sama. Ikhlas dan mutaba&#8217;ah (mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasalam : berilmu) adalah syarat mutlak menasihati. Nasihat adalah imad (tiang) agama. (HR Muslim).</p>
<p>Jaga muru&#8217;ah (kehormatan) dan harga diri dengan memberi nasihat sesuai apa yang kita kerjakan. Bercerminlah sebelum menasihati. Orang akan mencibir dan mencemooh terhadap orang yang mengatakan apa yang tidak diperbuatnya. Allahpun amat benci terhadap orang yang bersifat seperti itu.(Ash-Shaff: 3). Meniru matahari yang selalu menerangi alam raya tanpa harus memusnahkan dirinya, rasanya lebih bijaksana daripada menjadi sebatang lilin yang menerangi sebidang ruang gelap tapi dengan membakar diri sendiri. Wallahu a&#8217;lam. (Asri Ibnu Tsani).</p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=461&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/akhlak/bersaudara-dan-saling-menasihati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NAKSI-BOPB</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/422.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/422.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 17:30:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[NAKSI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-420" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/422.html/attachment/naksi-1"><img class="size-large wp-image-420 aligncenter" title="Naksi 1" src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/04/Naksi-1-1013x1024.jpg" alt="" width="608" height="614" /></a></p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=422&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/422.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NAKSI-Baca al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/421.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/421.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 17:30:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[NAKSI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-419" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/421.html/attachment/banner-a2i-2"><img class="alignleft size-large wp-image-419" title="Banner A2I 2" src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/04/Banner-A2I-2-1024x1020.jpg" alt="" width="614" height="612" /></a></p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=421&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/421.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NAKSI-Ngaji Why Not?</title>
		<link>http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/417.html</link>
		<comments>http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/417.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 17:25:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[NAKSI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/417.html</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-416" href="http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/417.html/attachment/banner-a2i"><img class="alignleft size-large wp-image-416" title="Banner A2I" src="http://formasi-fib-ui.org/blog/wp-content/uploads/2010/04/Banner-A2I-1024x1021.jpg" alt="" width="614" height="613" /></a></p>
<img src="http://formasi-fib-ui.org/blog/?ak_action=api_record_view&id=417&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formasi-fib-ui.org/blog/nasihat-kebaikan-formasi/417.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
